Y.M. Bhikkhu Uttamo Mahathera
Namo Tassa Bhagavato
Arahato Sammasambuddhassa (3x)
Banyak
orang mengenal istilah karma. Bahkan di luar negeri seperti di Amerika, misalnya
jika Anda berjalan ke toko-toko Anda akan menemukan tulisan “Stealing is bad karma”. Kemudian karma
juga telah menjadi bahasa sehari-hari. Di dalam bahasa sehari-hari, karma juga
sangat dikenal, baik oleh umat Buddha maupun yang bukan Buddhis. Setiap kali
ada orang yang mengalami penderitaan, kita sering mengatakan, “ Ah, ini memang
karmanya.” Apalagi jika orangnya agak jahat sedikit. Tetapi jika ada orang yang
bahagia, misalnya mampu membeli sepeda motor, tokonya laris, pasangan hidupnya
bahagia, saya jarang mendengar orang mengatakan, “Wah, karma tuh. Tokonya
laris.” Jarang sekali. Tapi, jikalau tokonya sepi, banyak cekcok, pasangan
hidupnya tidak bahagia, orang akan mengatakan, “Rasain tuh, karma. Jahat sih,”
sehingga orang menganggap karma itu merupakan akibat yang jelek, padahal karma
itu sebetulnya tidak selalu jelek.
Karma
adalah niat. Jadi, sepeda hilang itu merupakan buah karma. Tetapi ketika kita
melakukan sesuatu dengan adanya niat tertentu, itulah karma. Karena suatu
perbuatan yang dilakukan dengan niat disebut karma, maka buah karma itu ada 2
macam. Karena perbuatan bisa berupa perbuatan baik, maka timbullah buah karma
baik, misalnya: toko ramai, bisa beli sepeda motor, dapat pasangan hidup yang
sesuai. Kemudian perbuatan juga bisa berupa perbuatan jahat, maka timbullah
buah karma buruk. Tapi saya kan tidak pernah memukul, kan tidak jahat? Betul,
tapi Anda mungkin berpikir untuk memukul. Pikiran jahat juga merupakan karma,
sehingga nanti juga akan berbuah: buah karma yang buruk.
Karma
adalah niat. Anda bisa mempunyai niat baik maupun niat buruk, baik yang
dilakukan dengan badan, ucapan ataupun pikiran. Karena adanya perbuatan baik
dan perbuatan buruk, maka nanti ada pula buah karma baik, buah kebahagiaan dan
buah buruk. Ini merupakan prinsip dasar karma.
Kemudian
banyak orang menganggap karma itu sama dengan nasib dan sama juga dengan
takdir. Ada yang mengatakan kepada saya, “Bhante, saya dari kecil kok menderita
terus. Apa ini karma saya, Bhante? Sebagai orang tua saya kurang bahagia, hidup
saya menderita. Kalau dipikir-pikir kok hidup ini karma buruk terus. Apa ini
karma saya, apa ini nasib saya, apa ini takdir saya, apa ini tidak bisa diubah?”
Sehingga ada orang yang mengatakan, “Wah, ini sudah suratan takdir.” Kita
terkadang sering menyamakan karma dengan takdir atau kodrat atau nasib. “Saya
kerja kok susah tidak sukses-sukses? Sudahlah namanya juga tulang orang miskin,
kerja juga tidak bisa sukses. Kalau sudah tulang orang kaya, tidak kerja juga
kaya.” Jadi akhirnya kita merasa memiliki tulang miskin. “Kalau sudah tulang
kan tidak bisa diganti lagi tulangnya. Ya sudahlah. Aduh berarti saya sampai
mati miskin terus ini. Sudah takdirlah.” Lalu menyalahkan, “Dulu, karma apa
ini? Di kehidupan dulu apa yang saya perbuat kok bisa jadi tulang miskin?” Lalu
yang tulang kaya, merasa beruntung karma lampaunya baik. Jadi, orang menganggap
karma ini sama dengan takdir, sama dengan nasib, yang tidak bisa diubah.
Tetapi
karena karma ternyata bisa dimainkan, bisa kita arahkan, maka pertemuan malam
ini menjadi penting adanya. Karena diharapkan setelah perjumpaan kita hari ini,
kita diharapkan mampu mengubah jalan hidup kita. Anda yang tulang miskin diubah
jadi tulang tidak terlalu miskin. Bagi yang sudah tulang kaya, biar menjadi
orang yang tulangnya lebih kaya atau kaya tulang (Bhante bercanda).
Sebenarnya
karma hanya satu, masing-masing kita mempunyai karmanya masing-masing. Tetapi
di dalam perkumpulan dengan orang lain, karma kita ini saling bertemu sehingga
di dalam kehidupan kita, kadang melihat orang lain akan muncul pikiran suka
ataupun tidak suka, padahal kenal pun tidak, perilakunya pun kita tidak tahu.
Pernah mengalami? Kenapa bisa terjadi? Sebenarnya karena karma kita
masing-masing kita bertemu di satu tempat. Ada karma yang berdasarkan
kebencian, karena mungkin di kehidupan yang lampau kita pernah benci atau
musuhan dengan orang tersebut. Tapi ada juga karma yang berdasarkan cinta
sehingga begitu ketemu kita langsung jatuh cinta pada pandangan pertama. Begitu
dilihat wajahnya, wah puyeng kepala.
Saudara-saudara,
ini menunjukkan, dikarenakan karma kita sendiri kita bertemu di satu tempat.
Sekarang pertemuan yang paling awal antara kita dengan orang lain adalah dengan
orangtua. Kadang orangtua ketika mulai hamil, bisa merasakan perkembangan
pertama begitu hamil. Kadang muncul perasaan senang karena akan punya anak.
Tetapi tidak heran jika ada yang hamil pertama, lalu merasa tidak suka, belum
siap, ekonomi belum siap, menikah pun belum, kok hamil. Tapi ada kehamilan
seperti itu, kehamilan yang tidak diinginkan.
Sekarang
si bayi yang dilahirkan tentu tidak bisa memilih orangtuanya. Saudara-saudara,
jika Anda diberi angket untuk memilih, maukah Anda memilih orangtua yang lain?
Ada 50% menjawab mau. ”Saya mau jadi anaknya tetangga saja, dia lebih baik sama
anaknya.” Tetapi ada 50% lagi menjawab tidak mau. “Aku tetap mau orangtua yang
ini, lahir lagi aku tetap yang ini, lahir lagi tetap yang ini, tidak
bosan-bosannya.” Tapi ada juga yang berkata,” Cukup kelahiran ini saya jadi
anakmu. Kelahiran sekali ini pun sudah terlalu lama. Lain kali saya mau jadi
anaknya tetangga.” Ini karma yang pertama yang disebut dengan “karma yang
melahirkan”. Kita terlahir dari orangtua tertentu adalah buah karma kita, bisa
berupa karma yang didasari oleh cinta ataupun bukan cinta. Karena karma ini
menarik oleh cinta sekaligus juga menarik oleh kebencian. Cinta dan benci
saling mencari. Cinta mencari untuk saling mendekat, benci mencari untuk saling
menjauhi. Tetapi di dalam teknikal mainnya, cinta dan benci selalu mencari dan
selalu mendekatkan.
Karma
yang melahirkan diikuti dengan “karma yang mendukung”. Misalnya orangtua
pintar, anaknya pintar, ganteng dan cantik. Orangtua yang kurang mampu dan kurang
pandai, anaknya kurang mampu, tidak pandai, jelek lagi. Itu karma yang
mendukung. Tetapi selain karma yang melahirkan dan mendukung, ada pula “karma
yang mengurangi”. Jika tadi yang lahir di keluarga yang kaya, pandai, ganteng,
pengetahuannya bagus, tetapi ada karma yang mengurangi, yaitu perilakunya saat
ini. Karena pengetahuan Dhamma-nya juga bagus, lalu kemudian waktu makan tempe
berpikir, “Saya makan 5, tapi saya bilangnya 3. Satu tempe harganya Rp200,
berarti saya hemat Rp400. Kalu membohongi paling-paling nanti, buah karmanya
juga dibohongi. Kalau dari harta saya yang banyak hanya hilang Rp400 kan tidak
apa-apa. “Lalu saya mengatakan, “Penjual tempe tersebut pendapatannya dalam 1
hari Rp4000, berarti Rp400 adalah 10% dari penghasilannya. Lalu apakah kamu
siap kehilangan 10% dari hartamu?” Nah, ini orang yang mengerti Dhamma,
mengerti karma, tapi sesat. Itulah tindakan yang akan menjadi karma yang mengurangi,
mengurangi karma yang sedang berjalan.
Pertama
dia lahir di keluarga yang kaya raya, itu “karma yang melahirkan”. Kemudian dia
terlahir dengan tampilan fisik yang bagus, itulah “karma yang mendukung”.
Tetapi karena perilakunya yang jelek itulah yang menjadi “karma yang
mengurangi”. Akhirnya karena dia suka mabuk-mabukan, dia mengalami kecelakaan
dan koma, sehingga mengubah karmanya. Maka dia telah terkena “karma yang
memotong”.
Sebaliknya
tadi orang yang kurang mampu, lahir di keluarga yang kurang mampu, didukung
dengan fisik yang kurang bagus tetapi perilakunya baik, dia bertindak baik, dia
ramah, dia menjalankan sila dengan baik, senang menolong orang walau orang yang
ditolong terkadang takut dengan wajahnya tapi dia juga tetap suka menolong
orang, sampai suatu ketika orang yang ditolong merasa berhutang budi padanya
dan kemudian mungkin menawarkannya berbagai bantuan, misalnya meminjaminya
rumah untuk ditinggali. Orang yang dulunya kurang mampu, penampilannya tidak
bagus, tapi karena perilakunya bagus akhirnya dia bisa tinggal di rumah.
Kemudian dia juga merawat rumahnya dengan baik, dalam beberapa tahun rumahnya
bersih dan bagus. Akhirnya orang yang ditolong beberapa tahun merasa senang lalu mengatakan, “Rumahnya buat
kamu saja karena kamu dulu pernah menolong saya.” Akhirnya orang ini bisa
berubah karmanya. Orang mengatakan dia tulang orang miskin tapi karena
perilakunya baik, berubahlah tulangnya menjadi tidak terlalu miskin. Siapa yang
membuat berubah? Dirinya sendiri!
Oleh
karena itu, karma memang ada di telapak tangan kita. Tetapi lihatlah perbuatan
kita, apakah kita mengembangkan kebajikan dengan badan, ucapan dan pikiran
kita? Jika kita melakukan itu, maka yang dulunya menderita akan berkurang
penderitaannya. Yang dulunya bahagia akan menjadi lebih berbahagia. Kita bisa
mengubah karma kita. Karena karma dan pengaruhnya dalam kehidupan artinya
perbuatan yang kita lakukan dengan badan, ucapan, dan pikiran dapat mengubah
jalan hidup kita. Makanya kita harus berhati-hati, tidak sembarangan melakukan
kejahatan, sekalipun dengan pikiran kita. Kejahatan dengan badan dan ucapan
gampang untuk dihindari. Anda berkumpul di sini, kejahatan dengan badan dan
ucapan tidak Anda lakukan. Tetapi ketika Anda melihat HP teman di samping Anda,
Anda berpikir, “Wah, HP-nya bagus. Sayang ketemunya di acara begini, kalau
ketemunya di mall sudah saya sikat HP-nya.” Anda memang tidak melakukan
kejahatan melalui badan, tapi pikiran Anda telah mencuri HP itu. Perilaku yang
berniat itulah karma buruk dengan pikiran.
Jadi
kalau tidak melakukan kejahatan dengan ucapan dan badan jasmani gampang, tapi
jika tidak melakukan kejahatan dengan pikiran susah sekali. Padahal di dalam
Dhamma dikatakan pikiran adalah pelopor segalanya. Semua yang kita ucapkan,
semua yang kita lakukan berdasar dari pikiran. Belum ngomong apa-apa, sudah
mikir. Ini yang harus kita perbaiki sekarang. Melalui pikiran kita, kita mau
mengembangkan pikiran positif setiap saat.
Bagaimana
mengembangkan pikiran positif setiap saat? Anda bisa mengisi pikiran Anda
setiap saat dengan kata-kata yang baik, misalnya dengan membiasakan mengatakan,
“Semoga semua makhluk berbahagia.” Jikalau kita sering mengatakan hal ini, kita
mengisi pikiran kita dengan pikiran yang positif. Ini satu cara yang sangat
baik. Pikiran kita positif, pikiran kita baik. Ketika kita menghadapi berbagai
masalah, melihat orang lain menderita, bukannya kita mengejek tetapi kita
mengharapkan suatu saat dia akan mendapatkan kebahagiaan. Ini adalah salah satu
cara untuk membantu umat Buddha untuk berpikir yang baik. Jika pikiran baik,
ketika hendak berucap maupun berbuat akan dilakukan yang baik pula. Sehingga
akhirnya keinginan untuk menyakiti orang lain tidak akan muncul.
Maka
penuhilah batin Anda dengan berpikir, “Semoga semua makhluk berbahagia”,
sehingga kita tidak tertarik untuk ikut mengotori batin kita dengan hal-hal
yang tidak menyenangkan. Nah, kalau sudah begitu, pikiran kita menjadi baik,
kita juga akan berbahagia hidup di dunia ini. Kebahagiaan bukan dicari di luar
diri kita, tapi kebahagiaan itu ada di dalam diri kita, kebahagiaan itu ada
pada cara kita mengubah cara berpikir kita. Makin kita pandai mencari cara
untuk mengubah pikiran kita, maka akan semakin baik. Oleh karena itu,
Saudara-Saudara, karma itu sesungguhnya adalah perbuatan kita sendiri. Jika
Anda mengatakan hidup di dunia kok menderita, sebetulnya itu dari sudut pandang
Anda. Kacamata yang Anda gunakan itu apa? Kalau kacamata yang Anda gunakan itu
warnanya hijau, apapun yang Anda lihat akan menjadi hijau. Tetapi jika kacamata
Anda ini netral, maka Anda juga bisa melihat dunia ini dengan netral. Makin
Anda pandai berpikir positif, yang ada hanyalah kebahagiaan.
Jika
ada yang mengatakan, “Sulit, Bhante, mencari pasangan hidup,” sebetulnya kenapa
sulit? Karena Anda sudah menentukan pasangan hidup sendiri di dalam pikiran
Anda, sama seperti Anda pergi ke restoran. Sekarang Anda orang Medan, kemudian
pergi ke Jawa, pada saat Anda memesan nasi goreng, Anda sudah menggoreng
nasinya di dalam pikiran Anda sendiri. Nasi goreng kriterianya adalah seperti
ini, tapi di Jawa nanti Anda menemukan nasi goreng yang dicampur dengan mie.
Anda bingung. Kenapa? Karena Anda sudah menggoreng nasi itu sendiri. Jadi
begitu keluar yang ada mienya, Anda mengatakan, “Ini bukan yang saya pesan.”
Nah, itu sebetulnya karena kita sudah menggoreng duluan, sehingga membuat kita
sulit untuk mendapatkan yang cocok.
Pasangan
hidup juga sama, karena ketika kita mencari pasangan hidup, kita telah
menggambarkannya di dalam pikiran kita. Saya mau cari pasangan hidup yang
tenang, tidak suka bepergian, pandai, humoris, juga pandai bernyanyi. Kalau
yang seperti itu, Anda tidak sedang mencari pasangan hidup, tapi Anda mencari
televisi. Televisi tidak pernah bepergian, televisi pandai, televisi humoris,
televisi pandai bernyanyi. Nah, kalau sudah begitu, Anda carinya di kelompok
manusia ya tidak ketemu. Nah, sebetulnya, kembali lagi semua adalah tergantung
kita. Kalau kita sudah menggoreng sendiri, akhirnya menjadi susah mencari
pasangan hidup. Ubahlah cara penggorengannya. Kenalan dengan siapapun, dilihat
semua yang dikenal, siapa kira-kira yang kejelekannya paling sanggup Anda
terima. Ini teknik mencari pasangan hidup. Ini ada hubungannya dengan karma
lho. Karena itu, karma pengaruhnya sangat besar dalam kehidupan sehari-hari,
perbuatan kita, usaha kita, perjuangan kita. Jika Anda bisa lakukan itu, hidup
di dunia menjadi bahagia. Siapa yang membuat bahagia? Diri kita sendiri.
Karena
karma adalah niat, maka karma dapat dikembangkan menjadi karma baik dan karma
buruk. Kita dapat berkumpul dengan banyak orang ternyata karena ada 4 macam
hubungan karma, yaitu: karma yang melahirkan; karma yang mendukung; karma yang
mengurangi, yaitu perilaku kita sendiri (perilaku yang baik dapat mengurangi
karma yang buruk, perilaku yang buruk dapat mengurangi karma yang baik); dan
kemudian juga ada karma yang memotong (dulunya bahagia, karena perilaku kita
jelek akhirnya jadi menderita; kalau dulunya hidup menderita, banyak
berperilaku baik akhirnya menjadi bahagia).
Kalau
sudah demikian, kita kemudian mengembangkan cara berpikir yang positif. Karena
itu adalah bagian dari karma kita. Pikiran yang positif melahirkan ucapan yang
positif, serta perbuatan yang positif. Caranya untuk berpikir positif adalah
dengan sering mengembangkan pikiran “semoga semua makhluk berbahagia”. Itu yang
harus terus kita lakukan sehingga nanti ucapan kita menjadi sejajar, selaras
dengan pikiran “semoga semua makhluk berbahagia”. Demikian pula dengan perilaku
kita, kita pun selalu berusaha untuk membahagiakan lingkungan kita.
Karena
itu berbuatlah kebajikan sebanyak-banyaknya dengan pikiran, ucapan dan
perbuatan kita, sehingga akhirnya kebahagiaan menjadi milik kita. Karena karma
berpengaruh dalam kehidupan kita. Demikianlah Dhamma (yang dapat disampaikan)
pada malam hari ini, semoga Anda mendapat bekal. Inilah yang harus dilakukan,
mengembangkan kebajikan dengan pikiran, ucapan dan perbuatan untuk mengubah
keburukan menjadi kebaikan, kebahagiaan menjadi lebih bahagia. Semoga Anda
berbahagia. Semoga semua makhluk, tampak ataupun tidak tampak, turut
berbahagia. Sadhu!
Referensi
Samwara,
Tim Penerbit Bodhi Buddhist Centre Indonesia. 2010. A Handful of Wisdom: Transkrip Ceramah Dhamma Bhikkhu Uttamo Mahathera.
Medan: Karya Maju
Referensi
Gambar
http://dhamma-vagga.blogspot.com/2011/11/mencari-dan-membina-pasangan-hidup.html
(diakses 8 Juli 2014, 21:56)
http://www.idlehearts.com/karma-what-goes-around-comes-around/19982/
(diakses 8 Juli 2014, 21:53)
http://wallpapers.oneindia.in/quotes/karma-quotes/wallpapers-c22-p13230.html
(diakses 8 Juli 2014, 21:51)
https://madelinescribes.wordpress.com/2014/05/11/karma/comment-page-1/
(diakses 8 Juli 2014, 21:51)



Tidak ada komentar:
Posting Komentar