Selasa, 08 Juli 2014

Karma dan Pengaruhnya dalam Kehidupan



Y.M. Bhikkhu Uttamo Mahathera

Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa (3x)

Banyak orang mengenal istilah karma. Bahkan di luar negeri seperti di Amerika, misalnya jika Anda berjalan ke toko-toko Anda akan menemukan tulisan “Stealing is bad karma”. Kemudian karma juga telah menjadi bahasa sehari-hari. Di dalam bahasa sehari-hari, karma juga sangat dikenal, baik oleh umat Buddha maupun yang bukan Buddhis. Setiap kali ada orang yang mengalami penderitaan, kita sering mengatakan, “ Ah, ini memang karmanya.” Apalagi jika orangnya agak jahat sedikit. Tetapi jika ada orang yang bahagia, misalnya mampu membeli sepeda motor, tokonya laris, pasangan hidupnya bahagia, saya jarang mendengar orang mengatakan, “Wah, karma tuh. Tokonya laris.” Jarang sekali. Tapi, jikalau tokonya sepi, banyak cekcok, pasangan hidupnya tidak bahagia, orang akan mengatakan, “Rasain tuh, karma. Jahat sih,” sehingga orang menganggap karma itu merupakan akibat yang jelek, padahal karma itu sebetulnya tidak selalu jelek.

Karma adalah niat. Jadi, sepeda hilang itu merupakan buah karma. Tetapi ketika kita melakukan sesuatu dengan adanya niat tertentu, itulah karma. Karena suatu perbuatan yang dilakukan dengan niat disebut karma, maka buah karma itu ada 2 macam. Karena perbuatan bisa berupa perbuatan baik, maka timbullah buah karma baik, misalnya: toko ramai, bisa beli sepeda motor, dapat pasangan hidup yang sesuai. Kemudian perbuatan juga bisa berupa perbuatan jahat, maka timbullah buah karma buruk. Tapi saya kan tidak pernah memukul, kan tidak jahat? Betul, tapi Anda mungkin berpikir untuk memukul. Pikiran jahat juga merupakan karma, sehingga nanti juga akan berbuah: buah karma yang buruk.

Karma adalah niat. Anda bisa mempunyai niat baik maupun niat buruk, baik yang dilakukan dengan badan, ucapan ataupun pikiran. Karena adanya perbuatan baik dan perbuatan buruk, maka nanti ada pula buah karma baik, buah kebahagiaan dan buah buruk. Ini merupakan prinsip dasar karma.

Kemudian banyak orang menganggap karma itu sama dengan nasib dan sama juga dengan takdir. Ada yang mengatakan kepada saya, “Bhante, saya dari kecil kok menderita terus. Apa ini karma saya, Bhante? Sebagai orang tua saya kurang bahagia, hidup saya menderita. Kalau dipikir-pikir kok hidup ini karma buruk terus. Apa ini karma saya, apa ini nasib saya, apa ini takdir saya, apa ini tidak bisa diubah?” Sehingga ada orang yang mengatakan, “Wah, ini sudah suratan takdir.” Kita terkadang sering menyamakan karma dengan takdir atau kodrat atau nasib. “Saya kerja kok susah tidak sukses-sukses? Sudahlah namanya juga tulang orang miskin, kerja juga tidak bisa sukses. Kalau sudah tulang orang kaya, tidak kerja juga kaya.” Jadi akhirnya kita merasa memiliki tulang miskin. “Kalau sudah tulang kan tidak bisa diganti lagi tulangnya. Ya sudahlah. Aduh berarti saya sampai mati miskin terus ini. Sudah takdirlah.” Lalu menyalahkan, “Dulu, karma apa ini? Di kehidupan dulu apa yang saya perbuat kok bisa jadi tulang miskin?” Lalu yang tulang kaya, merasa beruntung karma lampaunya baik. Jadi, orang menganggap karma ini sama dengan takdir, sama dengan nasib, yang tidak bisa diubah.

Tetapi karena karma ternyata bisa dimainkan, bisa kita arahkan, maka pertemuan malam ini menjadi penting adanya. Karena diharapkan setelah perjumpaan kita hari ini, kita diharapkan mampu mengubah jalan hidup kita. Anda yang tulang miskin diubah jadi tulang tidak terlalu miskin. Bagi yang sudah tulang kaya, biar menjadi orang yang tulangnya lebih kaya atau kaya tulang (Bhante bercanda).



Sebenarnya karma hanya satu, masing-masing kita mempunyai karmanya masing-masing. Tetapi di dalam perkumpulan dengan orang lain, karma kita ini saling bertemu sehingga di dalam kehidupan kita, kadang melihat orang lain akan muncul pikiran suka ataupun tidak suka, padahal kenal pun tidak, perilakunya pun kita tidak tahu. Pernah mengalami? Kenapa bisa terjadi? Sebenarnya karena karma kita masing-masing kita bertemu di satu tempat. Ada karma yang berdasarkan kebencian, karena mungkin di kehidupan yang lampau kita pernah benci atau musuhan dengan orang tersebut. Tapi ada juga karma yang berdasarkan cinta sehingga begitu ketemu kita langsung jatuh cinta pada pandangan pertama. Begitu dilihat wajahnya, wah puyeng kepala.

Saudara-saudara, ini menunjukkan, dikarenakan karma kita sendiri kita bertemu di satu tempat. Sekarang pertemuan yang paling awal antara kita dengan orang lain adalah dengan orangtua. Kadang orangtua ketika mulai hamil, bisa merasakan perkembangan pertama begitu hamil. Kadang muncul perasaan senang karena akan punya anak. Tetapi tidak heran jika ada yang hamil pertama, lalu merasa tidak suka, belum siap, ekonomi belum siap, menikah pun belum, kok hamil. Tapi ada kehamilan seperti itu, kehamilan yang tidak diinginkan.

Sekarang si bayi yang dilahirkan tentu tidak bisa memilih orangtuanya. Saudara-saudara, jika Anda diberi angket untuk memilih, maukah Anda memilih orangtua yang lain? Ada 50% menjawab mau. ”Saya mau jadi anaknya tetangga saja, dia lebih baik sama anaknya.” Tetapi ada 50% lagi menjawab tidak mau. “Aku tetap mau orangtua yang ini, lahir lagi aku tetap yang ini, lahir lagi tetap yang ini, tidak bosan-bosannya.” Tapi ada juga yang berkata,” Cukup kelahiran ini saya jadi anakmu. Kelahiran sekali ini pun sudah terlalu lama. Lain kali saya mau jadi anaknya tetangga.” Ini karma yang pertama yang disebut dengan “karma yang melahirkan”. Kita terlahir dari orangtua tertentu adalah buah karma kita, bisa berupa karma yang didasari oleh cinta ataupun bukan cinta. Karena karma ini menarik oleh cinta sekaligus juga menarik oleh kebencian. Cinta dan benci saling mencari. Cinta mencari untuk saling mendekat, benci mencari untuk saling menjauhi. Tetapi di dalam teknikal mainnya, cinta dan benci selalu mencari dan selalu mendekatkan.

Karma yang melahirkan diikuti dengan “karma yang mendukung”. Misalnya orangtua pintar, anaknya pintar, ganteng dan cantik. Orangtua yang kurang mampu dan kurang pandai, anaknya kurang mampu, tidak pandai, jelek lagi. Itu karma yang mendukung. Tetapi selain karma yang melahirkan dan mendukung, ada pula “karma yang mengurangi”. Jika tadi yang lahir di keluarga yang kaya, pandai, ganteng, pengetahuannya bagus, tetapi ada karma yang mengurangi, yaitu perilakunya saat ini. Karena pengetahuan Dhamma-nya juga bagus, lalu kemudian waktu makan tempe berpikir, “Saya makan 5, tapi saya bilangnya 3. Satu tempe harganya Rp200, berarti saya hemat Rp400. Kalu membohongi paling-paling nanti, buah karmanya juga dibohongi. Kalau dari harta saya yang banyak hanya hilang Rp400 kan tidak apa-apa. “Lalu saya mengatakan, “Penjual tempe tersebut pendapatannya dalam 1 hari Rp4000, berarti Rp400 adalah 10% dari penghasilannya. Lalu apakah kamu siap kehilangan 10% dari hartamu?” Nah, ini orang yang mengerti Dhamma, mengerti karma, tapi sesat. Itulah tindakan yang akan menjadi karma yang mengurangi, mengurangi karma yang sedang berjalan.

Pertama dia lahir di keluarga yang kaya raya, itu “karma yang melahirkan”. Kemudian dia terlahir dengan tampilan fisik yang bagus, itulah “karma yang mendukung”. Tetapi karena perilakunya yang jelek itulah yang menjadi “karma yang mengurangi”. Akhirnya karena dia suka mabuk-mabukan, dia mengalami kecelakaan dan koma, sehingga mengubah karmanya. Maka dia telah terkena “karma yang memotong”.

Sebaliknya tadi orang yang kurang mampu, lahir di keluarga yang kurang mampu, didukung dengan fisik yang kurang bagus tetapi perilakunya baik, dia bertindak baik, dia ramah, dia menjalankan sila dengan baik, senang menolong orang walau orang yang ditolong terkadang takut dengan wajahnya tapi dia juga tetap suka menolong orang, sampai suatu ketika orang yang ditolong merasa berhutang budi padanya dan kemudian mungkin menawarkannya berbagai bantuan, misalnya meminjaminya rumah untuk ditinggali. Orang yang dulunya kurang mampu, penampilannya tidak bagus, tapi karena perilakunya bagus akhirnya dia bisa tinggal di rumah. Kemudian dia juga merawat rumahnya dengan baik, dalam beberapa tahun rumahnya bersih dan bagus. Akhirnya orang yang ditolong beberapa tahun  merasa senang lalu mengatakan, “Rumahnya buat kamu saja karena kamu dulu pernah menolong saya.” Akhirnya orang ini bisa berubah karmanya. Orang mengatakan dia tulang orang miskin tapi karena perilakunya baik, berubahlah tulangnya menjadi tidak terlalu miskin. Siapa yang membuat berubah? Dirinya sendiri!



Oleh karena itu, karma memang ada di telapak tangan kita. Tetapi lihatlah perbuatan kita, apakah kita mengembangkan kebajikan dengan badan, ucapan dan pikiran kita? Jika kita melakukan itu, maka yang dulunya menderita akan berkurang penderitaannya. Yang dulunya bahagia akan menjadi lebih berbahagia. Kita bisa mengubah karma kita. Karena karma dan pengaruhnya dalam kehidupan artinya perbuatan yang kita lakukan dengan badan, ucapan, dan pikiran dapat mengubah jalan hidup kita. Makanya kita harus berhati-hati, tidak sembarangan melakukan kejahatan, sekalipun dengan pikiran kita. Kejahatan dengan badan dan ucapan gampang untuk dihindari. Anda berkumpul di sini, kejahatan dengan badan dan ucapan tidak Anda lakukan. Tetapi ketika Anda melihat HP teman di samping Anda, Anda berpikir, “Wah, HP-nya bagus. Sayang ketemunya di acara begini, kalau ketemunya di mall sudah saya sikat HP-nya.” Anda memang tidak melakukan kejahatan melalui badan, tapi pikiran Anda telah mencuri HP itu. Perilaku yang berniat itulah karma buruk dengan pikiran.

Jadi kalau tidak melakukan kejahatan dengan ucapan dan badan jasmani gampang, tapi jika tidak melakukan kejahatan dengan pikiran susah sekali. Padahal di dalam Dhamma dikatakan pikiran adalah pelopor segalanya. Semua yang kita ucapkan, semua yang kita lakukan berdasar dari pikiran. Belum ngomong apa-apa, sudah mikir. Ini yang harus kita perbaiki sekarang. Melalui pikiran kita, kita mau mengembangkan pikiran positif setiap saat.

Bagaimana mengembangkan pikiran positif setiap saat? Anda bisa mengisi pikiran Anda setiap saat dengan kata-kata yang baik, misalnya dengan membiasakan mengatakan, “Semoga semua makhluk berbahagia.” Jikalau kita sering mengatakan hal ini, kita mengisi pikiran kita dengan pikiran yang positif. Ini satu cara yang sangat baik. Pikiran kita positif, pikiran kita baik. Ketika kita menghadapi berbagai masalah, melihat orang lain menderita, bukannya kita mengejek tetapi kita mengharapkan suatu saat dia akan mendapatkan kebahagiaan. Ini adalah salah satu cara untuk membantu umat Buddha untuk berpikir yang baik. Jika pikiran baik, ketika hendak berucap maupun berbuat akan dilakukan yang baik pula. Sehingga akhirnya keinginan untuk menyakiti orang lain tidak akan muncul.

Maka penuhilah batin Anda dengan berpikir, “Semoga semua makhluk berbahagia”, sehingga kita tidak tertarik untuk ikut mengotori batin kita dengan hal-hal yang tidak menyenangkan. Nah, kalau sudah begitu, pikiran kita menjadi baik, kita juga akan berbahagia hidup di dunia ini. Kebahagiaan bukan dicari di luar diri kita, tapi kebahagiaan itu ada di dalam diri kita, kebahagiaan itu ada pada cara kita mengubah cara berpikir kita. Makin kita pandai mencari cara untuk mengubah pikiran kita, maka akan semakin baik. Oleh karena itu, Saudara-Saudara, karma itu sesungguhnya adalah perbuatan kita sendiri. Jika Anda mengatakan hidup di dunia kok menderita, sebetulnya itu dari sudut pandang Anda. Kacamata yang Anda gunakan itu apa? Kalau kacamata yang Anda gunakan itu warnanya hijau, apapun yang Anda lihat akan menjadi hijau. Tetapi jika kacamata Anda ini netral, maka Anda juga bisa melihat dunia ini dengan netral. Makin Anda pandai berpikir positif, yang ada hanyalah kebahagiaan.

Jika ada yang mengatakan, “Sulit, Bhante, mencari pasangan hidup,” sebetulnya kenapa sulit? Karena Anda sudah menentukan pasangan hidup sendiri di dalam pikiran Anda, sama seperti Anda pergi ke restoran. Sekarang Anda orang Medan, kemudian pergi ke Jawa, pada saat Anda memesan nasi goreng, Anda sudah menggoreng nasinya di dalam pikiran Anda sendiri. Nasi goreng kriterianya adalah seperti ini, tapi di Jawa nanti Anda menemukan nasi goreng yang dicampur dengan mie. Anda bingung. Kenapa? Karena Anda sudah menggoreng nasi itu sendiri. Jadi begitu keluar yang ada mienya, Anda mengatakan, “Ini bukan yang saya pesan.” Nah, itu sebetulnya karena kita sudah menggoreng duluan, sehingga membuat kita sulit untuk mendapatkan yang cocok.

Pasangan hidup juga sama, karena ketika kita mencari pasangan hidup, kita telah menggambarkannya di dalam pikiran kita. Saya mau cari pasangan hidup yang tenang, tidak suka bepergian, pandai, humoris, juga pandai bernyanyi. Kalau yang seperti itu, Anda tidak sedang mencari pasangan hidup, tapi Anda mencari televisi. Televisi tidak pernah bepergian, televisi pandai, televisi humoris, televisi pandai bernyanyi. Nah, kalau sudah begitu, Anda carinya di kelompok manusia ya tidak ketemu. Nah, sebetulnya, kembali lagi semua adalah tergantung kita. Kalau kita sudah menggoreng sendiri, akhirnya menjadi susah mencari pasangan hidup. Ubahlah cara penggorengannya. Kenalan dengan siapapun, dilihat semua yang dikenal, siapa kira-kira yang kejelekannya paling sanggup Anda terima. Ini teknik mencari pasangan hidup. Ini ada hubungannya dengan karma lho. Karena itu, karma pengaruhnya sangat besar dalam kehidupan sehari-hari, perbuatan kita, usaha kita, perjuangan kita. Jika Anda bisa lakukan itu, hidup di dunia menjadi bahagia. Siapa yang membuat bahagia? Diri kita sendiri.

Karena karma adalah niat, maka karma dapat dikembangkan menjadi karma baik dan karma buruk. Kita dapat berkumpul dengan banyak orang ternyata karena ada 4 macam hubungan karma, yaitu: karma yang melahirkan; karma yang mendukung; karma yang mengurangi, yaitu perilaku kita sendiri (perilaku yang baik dapat mengurangi karma yang buruk, perilaku yang buruk dapat mengurangi karma yang baik); dan kemudian juga ada karma yang memotong (dulunya bahagia, karena perilaku kita jelek akhirnya jadi menderita; kalau dulunya hidup menderita, banyak berperilaku baik akhirnya menjadi bahagia).



Kalau sudah demikian, kita kemudian mengembangkan cara berpikir yang positif. Karena itu adalah bagian dari karma kita. Pikiran yang positif melahirkan ucapan yang positif, serta perbuatan yang positif. Caranya untuk berpikir positif adalah dengan sering mengembangkan pikiran “semoga semua makhluk berbahagia”. Itu yang harus terus kita lakukan sehingga nanti ucapan kita menjadi sejajar, selaras dengan pikiran “semoga semua makhluk berbahagia”. Demikian pula dengan perilaku kita, kita pun selalu berusaha untuk membahagiakan lingkungan kita.

Karena itu berbuatlah kebajikan sebanyak-banyaknya dengan pikiran, ucapan dan perbuatan kita, sehingga akhirnya kebahagiaan menjadi milik kita. Karena karma berpengaruh dalam kehidupan kita. Demikianlah Dhamma (yang dapat disampaikan) pada malam hari ini, semoga Anda mendapat bekal. Inilah yang harus dilakukan, mengembangkan kebajikan dengan pikiran, ucapan dan perbuatan untuk mengubah keburukan menjadi kebaikan, kebahagiaan menjadi lebih bahagia. Semoga Anda berbahagia. Semoga semua makhluk, tampak ataupun tidak tampak, turut berbahagia. Sadhu!

Referensi
Samwara, Tim Penerbit Bodhi Buddhist Centre Indonesia. 2010. A Handful of Wisdom: Transkrip Ceramah Dhamma Bhikkhu Uttamo Mahathera. Medan: Karya Maju

Referensi Gambar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar