Hiduplah
dengan Hati-Hati
Oleh:
Y.M. Bhikkhu Sri Paññavaro
Mahathera
Saudara,
kita sering mendengar ungkapan HATI-HATI. Kita pun sering memberi nasehat
kepada orang lain untuk berhati-hati. Tetapi sesungguhnya, hampir semua dari
kita tidak mengerti dengan jelas, apakah sesungguhnya yang disebut dengan
‘hati-hati’ itu. Hati-hati itu memang perlu. Di mana saja kalau berhati-hati
itu selalu baik. Tetapi kalau orang yang Saudara beri nasehat itu bertanya,
yang disebut hati-hati itu yang bagaimana? Saudara mau jawab bagaimana? Apakah
kalau mengendarai mobil 140 km/jam, itu sembrono? Tapi kalau mengendarai mobil
40 km/jam, itu kelewat takut! Apakah yang hati-hati itu kalau 90 km/jam? Apakah
begitu? Tidak begitu, Saudara.
Saudara,
menurut Dhamma, yang dimaksud dengan hati-hati adalah suatu sikap yang didasari
dengan kusala-cetanā.
Kusala-cetanā
adalah niat yang baik. Cetanā
artinya niat, kehendak, dorongan pikiran, motivasi, yang mendasari pemikiran
kita. Dan kusala artinya baik,
positif, bersih. Bersih artinya bersih dari kehendak yang tidak baik. Menurut
pandangan Dhamma, apapun yang menjadi sikap kita, perbuatan kita, yang kita
lakukan dengan jasmani atau ucapan, sebelum kita melakukannya, itu akan muncul
dalam pikiran kita sebagai “kehendak”.
Menurut
pandangan agama Buddha, seperti yang disebutkan dalam Dhammapada, pikiran itu
adalah awal, pikiran itu adalah pelopor, pikiran itu adalah pendahulu, pikiran
itu adalah pemimpin. Apapun yang akan kita ucapkan, yang kita lakukan, sebelum
kita melakukannya, sebelum kita mengucapkannya, ia telah muncul lebih dahulu di
dalam pikiran kita.
Misalnya
pohon yang ada di sana itu. Memang Saudara tidak bisa membuat pohon ini. Dia
tumbuh secara alami. Tetapi agar pohon ini bisa ada di sini, sebelumnya ada
seseorang yang mempunyai niat, “Saya akan menaruh pohon ini di depan patung
Buddha itu.” Setelah niat itu muncul kemudian dia berpikir lebih mendalam, di
mana pohon itu harus diambil, pohon jenis apa yang cocok, kemudian dia berpikir
yang lebih detil.
Juga,
sebelum patung ini muncul, ia muncul terlebih dahulu di dalam ide seseorang.
Saya ingin membuat patung Buddha. Dari ide itu kemudian muncul rencana. Patung
Buddha yang seperti apa, yang sebesar apa, yang model apa, bahan apa, sikapnya
seperti apa, kalau dijual harganya berapa, dan lain-lain. Dan kemudian muncul
patung seperti ini. Sebelum bangunan ini muncul, sebelum gedung-gedung ini
muncul, muncul lebih dahulu dalam pikiran seseorang. Saya akan membangun gedung
4 lantai, kemudian dibuat detailnya, dibuat rencananya, dipanggil arsiteknya,
dihitung konstruksinya, dihitung biayanya, berapa lama bisa dilakukan, dan
sebagainya, lalu dilaksanakan dan kemudian jadi.
Yang
memutuskan adalah pikiran kita. Jadi betapa pentingnya peranan kehendak itu.
Oleh karena itu, orang yang ingin bersikap hati-hati, minimal dia harus
mempunyai kehendak yang baik. Kehendak yang bersih dari kehendak tidak baik,
bersih dari unsur-unsur yang tidak baik.
Kehendak
yang negatif, yang tidak baik, akan melahirkan atau menghasilkan perbuatan yang
tidak baik. Perbuatan yang tidak baik selain merugikan diri sendiri juga akan
merugikan orang lain. Niat yang tidak baik itu, yang akan merugikan orang lain,
tidak mempunyai dukungan kuat. Dengan kalimat yang lain, tidak masuk akal,
tidak sah. Mengapa demikian? Karena, bukankah semua makhluk , setidak-tidaknya
sesama manusia, setiap orang, semuanya, agama apapun yang dianut, suku bangsa
apapun, bagaimanapun profesi sosialnya, apakah orang kaya, orang miskin atau
sangat miskin, semuanya menginginkan kebahagiaan. Kebahagiaan adalah tujuan,
obsesi, dan keinginan setiap orang. Bahkan pencuri sekalipun kalau ditangkap
dan ditanya, “Kamu mencuri apa sih tujuannya?” Pencuri itu menjawab,”Saya
mencuri karena saya ingin bahagia.” Tidak ada pencuri yang mencuri untuk
sengsara, “Saya mencuri supaya nanti saya ditangkap, supaya digebuki.” Tidak
ada yang seperti itu. Pencuri pun seperti Saudara, seperti dia, dia mencuri itu
sesungguhnya juga ingin bahagia, hanya saja caranya yang salah. Apakah ada
alasan kita untuk membencinya? Sesungguhnya tidak. Justru kasihan.
Alangkah
lemahnya orang yang mempunyai kehendak yang mengandung unsur untuk
mencelakakan, memojokkan, menghancurkan, atau melenyapkan orang lain. Alangkah
lemahnya dia, tidak masuk di akal, tidak bernalar. Mengapa harus mempunyai niat
yang menghancurkan, memojokkan, atau melenyapkan orang lain? Mengapa? Bukankah
semua orang termasuk Saudara, ingin bahagia? Mengapa Saudara berbuat begitu?
Oleh karena itu, Saudara, saya ingin member garis bawah yang tebal untuk ini.
Kalau Saudara ingin berhati-hati, cobalah berusaha untuk mengamat-amati,
memeriksa, mengintip, mengecek setiap kehendak Saudara, “Apakah kehendak ini
mengandung unsur negatif ataukah positif?” Itu adalah sikap hati-hati yang
minimal. Itulah kriteria hati-hati yang pertama.
Kalau saya boleh mengumpamakan,
"kehendak" itu seperti produsen. Kamma, ucapan, dan perbuatan-perbuatan yang kita lakukan -- yang baik ataupun yang tidak baik -- seperti produk (hasil produksinya). Kalau produsen itu memproduksi barang-barang dengan bahan-bahan yang baik, pasti hasil produksinya itu baik. Jadi Saudara, bagaimana menjaga ucapan dan perbuatan kita agar tidak menghancurkan, merugikan orang lain, melenyapkan, membunuh orang lain atau makhluk lain? Sebetulnya Saudara tidak perlu pusing. Kalau Saudara bisa menjaga kehendak Saudara, pasti ucapan dan tingkah laku yang muncul itu baik.
Kadang-kadang walau kita sudah punya niat yang baik, masih saja ada orang yang salah mengerti. Salah mengerti adalah sesuatu yang tidak bisa kita hindari. Karena kita tidak bisa membuat orang lain mempunyai pandangan seperti yang kita harapkan. Tetapi Saudara minimal sudah punya itikad baik, niat baik, kehendak baik, itu sudah positif.
Saya ingin memberikan satu contoh dengan cerita. Di negara mayoritas Buddhis, patung Buddha ada dimana-mana, kadang-kadang di perempatan jalan, di depan kantor, sekolah-sekolah, di tepi jalan. Ada yang kecil, ada yang sedang, ada yang besar. Suatu hari ada umat Buddha yang berjalan di tengah hujan yang lebat, dia melihat patung Buddha kecil yang kehujanan. Dia pikir,"Wah, tidak pantas ini. Air hujan membasahi patung Buddha yang tidak ada tutupnya." Tapi dia sendiri tidak membawa payung, pakaiannya basah. Mau diangkat dari
semen, patung itu melekat dengan alasnya. Dia melihat ke kanan ke kiri,
terlihat ada sebuah sepatu yang sudah dibuang, yang sudah jebol, baunya mungkin
tidak karu-karuan. Sepatu yang jebol itu diambil, lalu ditaruh di atas kepala
patung Buddha, supaya tidak kehujanan. Kemudian dia pergi. Pada waktu hujan
sudah berhenti, ada orang lain lewat dan dia juga umat Buddha. “Siapa ini,
sepatu jebol ditumpangi di kepalanya patung Buddha. Tidak betul caranya ini,
tidak masuk akal, ini penghinaan.” Lalu diambilnya sepatu jebol itu dan
dibuang.
Saudara, menurut psikologi Buddhis, menurut jiwa Dhamma, atau menurut
ajaran Dhamma, kedua orang ini sama-sama memiliki cetanā yang positif. Kedua orang ini sama-sama mempunyai tindakan
yang positif, meskipun caranya yang berbeda. Orang yang pertama mengerudungi
kepala patung dengan sepatu yang jebol; orang yang kedua mengatakan; perbuatan
ini tidak baik. Orang yang pertama tetap mempunyai nilai yang positif, meskipun
orang yang kedua salah paham dan mengira orang yang pertama itu mempunyai niat
yang tidak baik. Niat yang positif itu tidak berubah menjadi niat yang negatif,
meskipun orang lain menilai itu negative. Kalau saya menanam jagung, kemudian
tumbuh. Sebelum berbuah, orang melihat apa yang ditanam ini, “Ini bukan jagung,
ini jali.” Tidak menjadi soal. Meskipun orang menilai jagung ini jali, pada
waktunya dia berbuah nanti, dia tetap akan menjadi jagung. Dan Saudara tidak
usah pusing dengan apa yang akan Saudara hasilkan nanti. Benih itu, bibit itu
seperti cetanā. Kalau Saudara sudah
memastikan bahwa kehendak Saudara itu baik, maka tidak usah pusing. Ucapan dan
perbuatan Saudara, sekalipun orang lain akan salah paham, nilainya tetap
positif. Apakah orang kedua yang melemparkan sepatu yang jebol itu
menghancurkan niat positif dari orang yang pertama? Tidak. Dan apa yang dia
lakukan itu apakah negatif, karena dia merusak hasil orang yang pertama? Juga
tidak. Orang yang kedua juga melakukan hal yang positif, karena dia membuang
sepatu yang jebol itu dengan niat yang positif.
Kalau kita bisa memeriksa dan memastikan bahwa tidak ada unsur yang negatif
maka itu menjadi positif. Sekalipun orang lain salah paham kepada kita,
sekalipun kita sudah lakukan namun tidak berhasil, tetap harganya positif.
Itulah yang disebut dengan “hati-hati”. Orang yang hati-hati adalah orang yang
selalu memeriksa kehendaknya, mengamati kehendaknya, jangan sampai menimbulkan
kehendak negatif yang merugikan orang lain. Tetapi ini tidak cukup. Memang
berhati-hati itu harus mempunyai niat yang baik, kehendak yang positif, tidak
hanya asal mempunyai niat yang baik. Saya ingin menguraikan faktor yang lain,
yaitu sati dan sampajañña. Apakah yang disebut dengan sati?
Menurut Sutta, sati mempunyai banyak
arti. Yang pertama yaitu kemampuan mengingat. Jadi apa-apa yang pernah Anda
temui, kenalan-kenalan lama, begitu ketemu Saudara ingat, ini menunjukkan
satiny kuat, ingatannya kuat, tidak lemah. Banyak mempelajari, dan yang
dipelajarinya itu tidak dilupakan, itu sati-nya
bagus. Tetapi sati juga berarti
pengenalan. Memang ingatan dan pengenalan tidak bisa dipisahkan. Mengenali
bentuk-bentuk, mengenali sesuatu, mengenali keadaan, mengenali orang-orang. Sati juga berarti kesadaran, sati juga berarti kewaspadaan, sati juga berarti perhatian. Jadi itulah
arti dari sati. Ingatan, pengenalan,
kesadaran, kewaspadaan, atau perhatian; mewaspadai setiap saat
kehendak-kehendak yang muncul. Misalnya ketika dari berdiri sudah agak lama
saya ingin duduk, saya harus tahu dengan jelas kehendak ini apakah positif atau
negatif. Kalau hanya dari berdiri ingin duduk, dari duduk ingin berdiri, dari
duduk ingin berjalan, maka itu netral (tidak positif, tidak negatif). Tetapi
selain duduk, berdiri dan berjalan, kita juga mempunyai kehendak lain, misalnya
ingin menemui dia, ingin melakukan ini, ingin melakukan itu. Mengamati kehendak
adalah fungsi dari sati. Makin kuat sati kita, semakin kita tidak akan
kecolongan. Makin lemah sati kita,
maka kehendak kita akan muncul tidak karu-karuan. Lalu bagaimana agar sati ini menjadi kuat? Ia harus dilatih.
Tidak ada atlet yang langsung mempunyai otot yang kuat, napas yang panjang,
daya tahan fisik yang kuat. Itu harus dilatih. Demikian juga sati yang kuat, kewaspadaan yang kuat,
perhatian yang kuat, yang tidak lengah, tidak sembrono, itu harus dilatih.
Kalau sati Saudara baik, maka cetana
Saudara akan terseleksi. Tidak akan muncul begitu saja, tanpa diketahui, tanpa
dilihat, tanpa diamati.
Terjemahan sampajañña yang paling tepat adalah “pengertian lengkap” (pengertian atau pengetahuan
lengkap). Apakah yang dimaksud dengan pengertian lengkap? Sampajanna meliputi 4
hal, yaitu:
a.
Sātthaka-sampajañña
b.
Sappāya-sampajañña
c.
Gocara-sampajañña
d.
Asammoha sampajañña
a.
Sātthaka-sampajañña
Artinya “pengertian yang lengkap tentang kebenaran”. Ini
maksudnya kalau Saudara mempunyai kehendak yang baik, Saudara harus melihat
“baik” itu dari berbagai segi. Yang pertama dari segi Dhamma, tidak
bertentangan dengan Dhamma. Yang kedua, tidak bertentangan dengan hukum negara.
Yang ketiga, juga tidak bertentangan dengan hukum yang tidak tertulis yang
berlaku di lingkungan sekitar.
Di daerah saya ada kepercayaan begini: kalau baru selesai
melayat orang mati ke kuburan atau ke krematorium, tidak boleh langsung
menengok orang sakit. Kalau habis melayat orang mati lalu menengok orang sakit
itu nanti membuat si sakit cepat mati. Apakah betul, Bhante? Oh jelas tidak
betul. Tidak sesuai dengan kebenaran. Mati, sehat, atau sakit itu tergantung
dari berbagai macam faktor, singkat kata adalah karena KAMMA masing-masing.
Tetapi kalau menurut Dhamma, menengok orang sakit itu memang baik. Hukum negara
juga tidak ada yang melarang. Tetapi kalau di lingkungan atau di daerah orang
itu menengok orang sakit setelah melayat itu ternyata menjadi pantangan bagi
mereka, maka tentu kita harus mengikutinya agar tidak terjadi kesalahpahaman.
Sebagai bhikkhu, apakah saya tidak ingin memperbaiki
pandangan yang salah itu? Ya saya ingin. Tetapi caranya harus bijaksana, tidak
radikal. Kalau radikal nanti jadi bumerang. Itu namanya sikap tidak hati-hati.
Saudara tidak perlu menjadi pahlawan, menjadi orang pertama
yang memulai, dengan risiko yang akan membuat keonaran, kekacauan,
ketidakharmonisan. Jadi, memang punya niat baik itu syarat mutlak, tetapi dia
tidak boleh berdiri sendiri. Tidak asal niat baik. Niat baik itu harus sātthaka-sampajañña.
Kita harus melihat tidak hanya dari satu arah, tetapi dari berbagai arah,
sehingga sikap kita tidak akan membuat keonaran, kekacauan, dan sebagainya.
Itulah yang disebut dengan hati-hati. Kalau Saudara tidak mau melihat kiri
kanan, tidak mau melihat suasana sekitar, beranggapan “pokoknya niatku baik”,
ini juga termasuk ceroboh.
b.
Sappāya-sampajañña
Artinya “pengertian lengkap tentang kelayakan.” Apakah yang
dimaksud dengan kelayakan? Kalau saya mempunyai niat yang seperti ini, jelas
sekali itu baik, bersih, saya sudah cek berkali-kali, periksa berkali-kali,
dari segala arah, dari Dhamma, dari hukum yang tertulis maupun hukum yang tidak
tertulis. Tetapi kita perlu sappāya-sampajañña,
yaitu apakah saya mampu melaksanakan niat itu? Saudara harus mengukur pada diri
sendiri. Satu contoh, seorang ibu-ibu yang sudah berumur 65 tahun,
pendidikannya sampai kelas 5 SD, bisa baca dan tulis. Nah, kalau ibu berumur 65
tahun dengan pendidikan formal hanya SD kelas 5, sekarang punya cita-cita
menjadi menteri – mentreri sosial, misalnya, apakah mampu? Saya pernah
mendapatkan penjelasan dari seseorang yang sering memberi pelajaran tentang
manajemen. Menurut ilmu manajemen modern, seorang pemimpin itu harus bisa
mengira-ngira. Jadi kalau mempunyai program atau cita-cita itu harus bisa
mengira-ngira, mengukur, saya mampu mencapainya atau tidak? Persis sih memang
tidak bisa, halangan pasti muncul, tetapi cita-citanya itu yang bernalar,
jangan yang muluk-muluk. Pemimpin yang tidak mempunyai atau tidak melihat
visi/gambaran kira-kira tujuan apa yang mampu ia capai, maka orang itu tidak
bisa menjadi pemimpin. Karena meskipun programnya baik, bisa saja nantinya
tidak terlaksana karena ternyata tidak ada kemampuan untuk mewujudkannya. Nah,
itu namanya sembrono, bukan berhati-hati.
c.
Gocara-sampajañña
Artinya “pengertian yang lengkap tentang ruang lingkup”. Apa
yang dimaksud dengan ruang lingkup? Saudara boleh melakukan apa saja, yang
sudah tentu dengan niat yang baik dan benar dari segala arah, asalkan apa yang
Saudara lakukan itu mempunyai hubungan dengan apa yang ingin Saudara capai.
Contohnya bagaimana? Misalnya kita mau membangun wihara, lalu kita bikin
arisan. Tidak apa. Karena hasil arisannya nanti akan masuk ke panitia
pembangunan. Jual parsel, tidak apa. Apa hubungannya parsel dengan wihara?
Karena keuntungan dari jual parsel ini masuk ke panitia pembangunan. Bikin
malam kesenian, lho wihara belum jadi kok malah senang-senang bikin acara malam
kesenian. Tidak apa, asal ada keuntungannya, lalu keuntungannya masuk ke
panitia pembangunan. Arisan, jual parsel, bikin malam kesenian, sepertinya
tidak ada hubungannya dengan pembangunan wihara, tetapi kalau itu ditujukan untuk
mencapai cita-cita, maka ia termasuk gocara-sampajañña.
Sesungguhnya, dalam hidup bermasyarakat, Saudara sudah cukup
bila hanya sampai di sini, yaitu: niat baik, sātthaka-sampajañña,
sappāya-sampajañña,
dan gocara- sampajañña.
Ini adalah bekal atau pedoman untuk membawa diri Saudara di tengah-tengah
masyarakat dengan berbagai macam rangsangan, bujukan dan sebagainya. Tetapi di
sini, kalau Saudara ingin meningkatkan batin Saudara menjadi ke tingkat yang
lebih tinggi, tidak di level yang biasa, ada yang nomor empat, ini yang paling
sulit.
d.
Asammoha-sampajañña
Yang dimaksud dengan asammoha- sampajañña
adalah “pengertian yang lengkap, bebas dari kegelapan batin, bebas dari moha”.
Apakah yang dimaksud dengan hal ini, Saudara? Apabila Saudara menginginkan asammoha- sampajañña
untuk meningkatkan kualitas batin Saudara, maka setelah berhasil mencapai suatu
niat baik saudara tidak boleh memiliki perasaan atau pemikiran, “Saya sudah
melakukan tujuan yang baik dan sudah berhasil,” atau, “Saya sudah menolong dia,
saya sudah berkhotbah dan selesai, saya sudah membuat orang lain puas, saya
sudah menyelesaikan kewajiban.” Hal tersebut tidak boleh ada. Mengapa? Karena
bila ada pemikiran seperti itu, maka seakan-akan ada “aku yang sesungguhnya”
yang melakukan dan merasakan keberhasilannya itu; padahal tidak ada “aku yang
sesungguhnya”.
Referensi
Bodhikusalo,
Rofin, Alex. 2008. Bingkai Kehidupan:
Kumpulan Ceramah Dhamma Bhante Paññavaro. Medan: CV Karya Maju
Referensi Gambar
http://www.samaggi-phala.or.id/sangha-theravada-indonesia/sri-pannavaro-mahathera/
(diakses 20 Mei 2014, 20.45)
http://jhodymaaf.blogspot.com/2012/07/boddhisatta-pangeran-mencapai-anapana.html
(diakses 20 Mei 2014, 20.53)
http://belajarbuddha.blogspot.com/2012/05/meditasi.html
(diakses 20 Mei 2014, 21.03)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar