Selasa, 20 Mei 2014

Hiduplah dengan Hati-Hati



Hiduplah dengan Hati-Hati
Oleh: Y.M. Bhikkhu Sri Paññavaro Mahathera


Saudara, kita sering mendengar ungkapan HATI-HATI. Kita pun sering memberi nasehat kepada orang lain untuk berhati-hati. Tetapi sesungguhnya, hampir semua dari kita tidak mengerti dengan jelas, apakah sesungguhnya yang disebut dengan ‘hati-hati’ itu. Hati-hati itu memang perlu. Di mana saja kalau berhati-hati itu selalu baik. Tetapi kalau orang yang Saudara beri nasehat itu bertanya, yang disebut hati-hati itu yang bagaimana? Saudara mau jawab bagaimana? Apakah kalau mengendarai mobil 140 km/jam, itu sembrono? Tapi kalau mengendarai mobil 40 km/jam, itu kelewat takut! Apakah yang hati-hati itu kalau 90 km/jam? Apakah begitu? Tidak begitu, Saudara.

Saudara, menurut Dhamma, yang dimaksud dengan hati-hati adalah suatu sikap yang didasari dengan kusala-cetanā. Kusala-cetanā adalah niat yang baik. Cetanā artinya niat, kehendak, dorongan pikiran, motivasi, yang mendasari pemikiran kita. Dan kusala artinya baik, positif, bersih. Bersih artinya bersih dari kehendak yang tidak baik. Menurut pandangan Dhamma, apapun yang menjadi sikap kita, perbuatan kita, yang kita lakukan dengan jasmani atau ucapan, sebelum kita melakukannya, itu akan muncul dalam pikiran kita sebagai “kehendak”.

Menurut pandangan agama Buddha, seperti yang disebutkan dalam Dhammapada, pikiran itu adalah awal, pikiran itu adalah pelopor, pikiran itu adalah pendahulu, pikiran itu adalah pemimpin. Apapun yang akan kita ucapkan, yang kita lakukan, sebelum kita melakukannya, sebelum kita mengucapkannya, ia telah muncul lebih dahulu di dalam pikiran kita.

Misalnya pohon yang ada di sana itu. Memang Saudara tidak bisa membuat pohon ini. Dia tumbuh secara alami. Tetapi agar pohon ini bisa ada di sini, sebelumnya ada seseorang yang mempunyai niat, “Saya akan menaruh pohon ini di depan patung Buddha itu.” Setelah niat itu muncul kemudian dia berpikir lebih mendalam, di mana pohon itu harus diambil, pohon jenis apa yang cocok, kemudian dia berpikir yang lebih detil.

Juga, sebelum patung ini muncul, ia muncul terlebih dahulu di dalam ide seseorang. Saya ingin membuat patung Buddha. Dari ide itu kemudian muncul rencana. Patung Buddha yang seperti apa, yang sebesar apa, yang model apa, bahan apa, sikapnya seperti apa, kalau dijual harganya berapa, dan lain-lain. Dan kemudian muncul patung seperti ini. Sebelum bangunan ini muncul, sebelum gedung-gedung ini muncul, muncul lebih dahulu dalam pikiran seseorang. Saya akan membangun gedung 4 lantai, kemudian dibuat detailnya, dibuat rencananya, dipanggil arsiteknya, dihitung konstruksinya, dihitung biayanya, berapa lama bisa dilakukan, dan sebagainya, lalu dilaksanakan dan kemudian jadi.

Yang memutuskan adalah pikiran kita. Jadi betapa pentingnya peranan kehendak itu. Oleh karena itu, orang yang ingin bersikap hati-hati, minimal dia harus mempunyai kehendak yang baik. Kehendak yang bersih dari kehendak tidak baik, bersih dari unsur-unsur yang tidak baik. 

Kehendak yang negatif, yang tidak baik, akan melahirkan atau menghasilkan perbuatan yang tidak baik. Perbuatan yang tidak baik selain merugikan diri sendiri juga akan merugikan orang lain. Niat yang tidak baik itu, yang akan merugikan orang lain, tidak mempunyai dukungan kuat. Dengan kalimat yang lain, tidak masuk akal, tidak sah. Mengapa demikian? Karena, bukankah semua makhluk , setidak-tidaknya sesama manusia, setiap orang, semuanya, agama apapun yang dianut, suku bangsa apapun, bagaimanapun profesi sosialnya, apakah orang kaya, orang miskin atau sangat miskin, semuanya menginginkan kebahagiaan. Kebahagiaan adalah tujuan, obsesi, dan keinginan setiap orang. Bahkan pencuri sekalipun kalau ditangkap dan ditanya, “Kamu mencuri apa sih tujuannya?” Pencuri itu menjawab,”Saya mencuri karena saya ingin bahagia.” Tidak ada pencuri yang mencuri untuk sengsara, “Saya mencuri supaya nanti saya ditangkap, supaya digebuki.” Tidak ada yang seperti itu. Pencuri pun seperti Saudara, seperti dia, dia mencuri itu sesungguhnya juga ingin bahagia, hanya saja caranya yang salah. Apakah ada alasan kita untuk membencinya? Sesungguhnya tidak. Justru kasihan.

Alangkah lemahnya orang yang mempunyai kehendak yang mengandung unsur untuk mencelakakan, memojokkan, menghancurkan, atau melenyapkan orang lain. Alangkah lemahnya dia, tidak masuk di akal, tidak bernalar. Mengapa harus mempunyai niat yang menghancurkan, memojokkan, atau melenyapkan orang lain? Mengapa? Bukankah semua orang termasuk Saudara, ingin bahagia? Mengapa Saudara berbuat begitu? Oleh karena itu, Saudara, saya ingin member garis bawah yang tebal untuk ini. Kalau Saudara ingin berhati-hati, cobalah berusaha untuk mengamat-amati, memeriksa, mengintip, mengecek setiap kehendak Saudara, “Apakah kehendak ini mengandung unsur negatif ataukah positif?” Itu adalah sikap hati-hati yang minimal. Itulah kriteria hati-hati yang pertama.

Kalau saya boleh mengumpamakan, "kehendak" itu seperti produsen. Kamma, ucapan, dan perbuatan-perbuatan yang kita lakukan -- yang baik ataupun yang tidak baik -- seperti produk (hasil produksinya). Kalau produsen itu memproduksi barang-barang dengan bahan-bahan yang baik, pasti hasil produksinya itu baik. Jadi Saudara, bagaimana menjaga ucapan dan perbuatan kita agar tidak menghancurkan, merugikan orang lain, melenyapkan, membunuh orang lain atau makhluk lain? Sebetulnya Saudara tidak perlu pusing. Kalau Saudara bisa menjaga kehendak Saudara, pasti ucapan dan tingkah laku yang muncul itu baik.

Kadang-kadang walau kita sudah punya niat yang baik, masih saja ada orang yang salah mengerti. Salah mengerti adalah sesuatu yang tidak bisa kita hindari. Karena kita tidak bisa membuat orang lain mempunyai pandangan seperti yang kita harapkan. Tetapi Saudara minimal sudah punya itikad baik, niat baik, kehendak baik, itu sudah positif.

Saya ingin memberikan satu contoh dengan cerita. Di negara mayoritas Buddhispatung Buddha ada dimana-mana, kadang-kadang di perempatan jalan, di depan kantor, sekolah-sekolah, di tepi jalan. Ada yang kecil, ada yang sedang, ada yang besar. Suatu hari ada umat Buddha yang berjalan di tengah hujan yang lebat, dia melihat patung Buddha kecil yang kehujanan. Dia pikir,"Wah, tidak pantas ini. Air hujan membasahi patung Buddha yang tidak ada tutupnya." Tapi dia sendiri tidak membawa payung, pakaiannya basah. Mau diangkat dari semen, patung itu melekat dengan alasnya. Dia melihat ke kanan ke kiri, terlihat ada sebuah sepatu yang sudah dibuang, yang sudah jebol, baunya mungkin tidak karu-karuan. Sepatu yang jebol itu diambil, lalu ditaruh di atas kepala patung Buddha, supaya tidak kehujanan. Kemudian dia pergi. Pada waktu hujan sudah berhenti, ada orang lain lewat dan dia juga umat Buddha. “Siapa ini, sepatu jebol ditumpangi di kepalanya patung Buddha. Tidak betul caranya ini, tidak masuk akal, ini penghinaan.” Lalu diambilnya sepatu jebol itu dan dibuang.

Saudara, menurut psikologi Buddhis, menurut jiwa Dhamma, atau menurut ajaran Dhamma, kedua orang ini sama-sama memiliki cetanā yang positif. Kedua orang ini sama-sama mempunyai tindakan yang positif, meskipun caranya yang berbeda. Orang yang pertama mengerudungi kepala patung dengan sepatu yang jebol; orang yang kedua mengatakan; perbuatan ini tidak baik. Orang yang pertama tetap mempunyai nilai yang positif, meskipun orang yang kedua salah paham dan mengira orang yang pertama itu mempunyai niat yang tidak baik. Niat yang positif itu tidak berubah menjadi niat yang negatif, meskipun orang lain menilai itu negative. Kalau saya menanam jagung, kemudian tumbuh. Sebelum berbuah, orang melihat apa yang ditanam ini, “Ini bukan jagung, ini jali.” Tidak menjadi soal. Meskipun orang menilai jagung ini jali, pada waktunya dia berbuah nanti, dia tetap akan menjadi jagung. Dan Saudara tidak usah pusing dengan apa yang akan Saudara hasilkan nanti. Benih itu, bibit itu seperti cetanā. Kalau Saudara sudah memastikan bahwa kehendak Saudara itu baik, maka tidak usah pusing. Ucapan dan perbuatan Saudara, sekalipun orang lain akan salah paham, nilainya tetap positif. Apakah orang kedua yang melemparkan sepatu yang jebol itu menghancurkan niat positif dari orang yang pertama? Tidak. Dan apa yang dia lakukan itu apakah negatif, karena dia merusak hasil orang yang pertama? Juga tidak. Orang yang kedua juga melakukan hal yang positif, karena dia membuang sepatu yang jebol itu dengan niat yang positif.


Kalau kita bisa memeriksa dan memastikan bahwa tidak ada unsur yang negatif maka itu menjadi positif. Sekalipun orang lain salah paham kepada kita, sekalipun kita sudah lakukan namun tidak berhasil, tetap harganya positif. Itulah yang disebut dengan “hati-hati”. Orang yang hati-hati adalah orang yang selalu memeriksa kehendaknya, mengamati kehendaknya, jangan sampai menimbulkan kehendak negatif yang merugikan orang lain. Tetapi ini tidak cukup. Memang berhati-hati itu harus mempunyai niat yang baik, kehendak yang positif, tidak hanya asal mempunyai niat yang baik. Saya ingin menguraikan faktor yang lain, yaitu sati dan sampajañña. Apakah yang disebut dengan sati? Menurut Sutta, sati mempunyai banyak arti. Yang pertama yaitu kemampuan mengingat. Jadi apa-apa yang pernah Anda temui, kenalan-kenalan lama, begitu ketemu Saudara ingat, ini menunjukkan satiny kuat, ingatannya kuat, tidak lemah. Banyak mempelajari, dan yang dipelajarinya itu tidak dilupakan, itu sati-nya bagus. Tetapi sati juga berarti pengenalan. Memang ingatan dan pengenalan tidak bisa dipisahkan. Mengenali bentuk-bentuk, mengenali sesuatu, mengenali keadaan, mengenali orang-orang. Sati juga berarti kesadaran, sati juga berarti kewaspadaan, sati juga berarti perhatian. Jadi itulah arti dari sati. Ingatan, pengenalan, kesadaran, kewaspadaan, atau perhatian; mewaspadai setiap saat kehendak-kehendak yang muncul. Misalnya ketika dari berdiri sudah agak lama saya ingin duduk, saya harus tahu dengan jelas kehendak ini apakah positif atau negatif. Kalau hanya dari berdiri ingin duduk, dari duduk ingin berdiri, dari duduk ingin berjalan, maka itu netral (tidak positif, tidak negatif). Tetapi selain duduk, berdiri dan berjalan, kita juga mempunyai kehendak lain, misalnya ingin menemui dia, ingin melakukan ini, ingin melakukan itu. Mengamati kehendak adalah fungsi dari sati. Makin kuat sati kita, semakin kita tidak akan kecolongan. Makin lemah sati kita, maka kehendak kita akan muncul tidak karu-karuan. Lalu bagaimana agar sati ini menjadi kuat? Ia harus dilatih. Tidak ada atlet yang langsung mempunyai otot yang kuat, napas yang panjang, daya tahan fisik yang kuat. Itu harus dilatih. Demikian juga sati yang kuat, kewaspadaan yang kuat, perhatian yang kuat, yang tidak lengah, tidak sembrono, itu harus dilatih. Kalau sati Saudara baik, maka cetana Saudara akan terseleksi. Tidak akan muncul begitu saja, tanpa diketahui, tanpa dilihat, tanpa diamati.


Terjemahan sampajañña yang paling tepat adalah “pengertian lengkap” (pengertian atau pengetahuan lengkap). Apakah yang dimaksud dengan pengertian lengkap? Sampajanna meliputi 4 hal, yaitu:
a.       Sātthaka-sampajañña
b.      Sappāya-sampajañña
c.       Gocara-sampajañña
d.      Asammoha sampajañña

a.       Sātthaka-sampajañña
Artinya “pengertian yang lengkap tentang kebenaran”. Ini maksudnya kalau Saudara mempunyai kehendak yang baik, Saudara harus melihat “baik” itu dari berbagai segi. Yang pertama dari segi Dhamma, tidak bertentangan dengan Dhamma. Yang kedua, tidak bertentangan dengan hukum negara. Yang ketiga, juga tidak bertentangan dengan hukum yang tidak tertulis yang berlaku di lingkungan sekitar.

Di daerah saya ada kepercayaan begini: kalau baru selesai melayat orang mati ke kuburan atau ke krematorium, tidak boleh langsung menengok orang sakit. Kalau habis melayat orang mati lalu menengok orang sakit itu nanti membuat si sakit cepat mati. Apakah betul, Bhante? Oh jelas tidak betul. Tidak sesuai dengan kebenaran. Mati, sehat, atau sakit itu tergantung dari berbagai macam faktor, singkat kata adalah karena KAMMA masing-masing. Tetapi kalau menurut Dhamma, menengok orang sakit itu memang baik. Hukum negara juga tidak ada yang melarang. Tetapi kalau di lingkungan atau di daerah orang itu menengok orang sakit setelah melayat itu ternyata menjadi pantangan bagi mereka, maka tentu kita harus mengikutinya agar tidak terjadi kesalahpahaman.

Sebagai bhikkhu, apakah saya tidak ingin memperbaiki pandangan yang salah itu? Ya saya ingin. Tetapi caranya harus bijaksana, tidak radikal. Kalau radikal nanti jadi bumerang. Itu namanya sikap tidak hati-hati.

Saudara tidak perlu menjadi pahlawan, menjadi orang pertama yang memulai, dengan risiko yang akan membuat keonaran, kekacauan, ketidakharmonisan. Jadi, memang punya niat baik itu syarat mutlak, tetapi dia tidak boleh berdiri sendiri. Tidak asal niat baik. Niat baik itu harus sātthaka-sampajañña. Kita harus melihat tidak hanya dari satu arah, tetapi dari berbagai arah, sehingga sikap kita tidak akan membuat keonaran, kekacauan, dan sebagainya. Itulah yang disebut dengan hati-hati. Kalau Saudara tidak mau melihat kiri kanan, tidak mau melihat suasana sekitar, beranggapan “pokoknya niatku baik”, ini juga termasuk ceroboh.

b.      Sappāya-sampajañña
Artinya “pengertian lengkap tentang kelayakan.” Apakah yang dimaksud dengan kelayakan? Kalau saya mempunyai niat yang seperti ini, jelas sekali itu baik, bersih, saya sudah cek berkali-kali, periksa berkali-kali, dari segala arah, dari Dhamma, dari hukum yang tertulis maupun hukum yang tidak tertulis. Tetapi kita perlu sappāya-sampajañña, yaitu apakah saya mampu melaksanakan niat itu? Saudara harus mengukur pada diri sendiri. Satu contoh, seorang ibu-ibu yang sudah berumur 65 tahun, pendidikannya sampai kelas 5 SD, bisa baca dan tulis. Nah, kalau ibu berumur 65 tahun dengan pendidikan formal hanya SD kelas 5, sekarang punya cita-cita menjadi menteri – mentreri sosial, misalnya, apakah mampu? Saya pernah mendapatkan penjelasan dari seseorang yang sering memberi pelajaran tentang manajemen. Menurut ilmu manajemen modern, seorang pemimpin itu harus bisa mengira-ngira. Jadi kalau mempunyai program atau cita-cita itu harus bisa mengira-ngira, mengukur, saya mampu mencapainya atau tidak? Persis sih memang tidak bisa, halangan pasti muncul, tetapi cita-citanya itu yang bernalar, jangan yang muluk-muluk. Pemimpin yang tidak mempunyai atau tidak melihat visi/gambaran kira-kira tujuan apa yang mampu ia capai, maka orang itu tidak bisa menjadi pemimpin. Karena meskipun programnya baik, bisa saja nantinya tidak terlaksana karena ternyata tidak ada kemampuan untuk mewujudkannya. Nah, itu namanya sembrono, bukan berhati-hati.

c.       Gocara-sampajañña
Artinya “pengertian yang lengkap tentang ruang lingkup”. Apa yang dimaksud dengan ruang lingkup? Saudara boleh melakukan apa saja, yang sudah tentu dengan niat yang baik dan benar dari segala arah, asalkan apa yang Saudara lakukan itu mempunyai hubungan dengan apa yang ingin Saudara capai. Contohnya bagaimana? Misalnya kita mau membangun wihara, lalu kita bikin arisan. Tidak apa. Karena hasil arisannya nanti akan masuk ke panitia pembangunan. Jual parsel, tidak apa. Apa hubungannya parsel dengan wihara? Karena keuntungan dari jual parsel ini masuk ke panitia pembangunan. Bikin malam kesenian, lho wihara belum jadi kok malah senang-senang bikin acara malam kesenian. Tidak apa, asal ada keuntungannya, lalu keuntungannya masuk ke panitia pembangunan. Arisan, jual parsel, bikin malam kesenian, sepertinya tidak ada hubungannya dengan pembangunan wihara, tetapi kalau itu ditujukan untuk mencapai cita-cita, maka ia termasuk gocara-sampajañña.

Sesungguhnya, dalam hidup bermasyarakat, Saudara sudah cukup bila hanya sampai di sini, yaitu: niat baik, sātthaka-sampajañña, sappāya-sampajañña, dan gocara- sampajañña. Ini adalah bekal atau pedoman untuk membawa diri Saudara di tengah-tengah masyarakat dengan berbagai macam rangsangan, bujukan dan sebagainya. Tetapi di sini, kalau Saudara ingin meningkatkan batin Saudara menjadi ke tingkat yang lebih tinggi, tidak di level yang biasa, ada yang nomor empat, ini yang paling sulit.

d.      Asammoha-sampajañña
Yang dimaksud dengan asammoha- sampajañña adalah “pengertian yang lengkap, bebas dari kegelapan batin, bebas dari moha”. Apakah yang dimaksud dengan hal ini, Saudara? Apabila Saudara menginginkan asammoha- sampajañña untuk meningkatkan kualitas batin Saudara, maka setelah berhasil mencapai suatu niat baik saudara tidak boleh memiliki perasaan atau pemikiran, “Saya sudah melakukan tujuan yang baik dan sudah berhasil,” atau, “Saya sudah menolong dia, saya sudah berkhotbah dan selesai, saya sudah membuat orang lain puas, saya sudah menyelesaikan kewajiban.” Hal tersebut tidak boleh ada. Mengapa? Karena bila ada pemikiran seperti itu, maka seakan-akan ada “aku yang sesungguhnya” yang melakukan dan merasakan keberhasilannya itu; padahal tidak ada “aku yang sesungguhnya”.

Nah kemudian Saudara bertanya, “Jadi Bhante, ini siapa yang memberikan Dhamma Class? Saya pun menjawab, “Saya, aku” Dan Saudara pun kembali bertanya, “Nah, itu kok boleh, Bhante?” Itu supaya kita tidak bingung ketika berbicara. Ini tas siapa? Ini tas saya, bukan tas Anda. Tetapi pengertian saya sendiri ke dalam harus dimengerti bahwa tidak ada aku yang benar-benar memiliki tas ini, tidak ada aku yang memberi khotbah yang sudah selesai dan membuat Anda puas. Mengapa kok tidak ada? Sebab khotbah ini bisa terjadi karena banyak macam sebab: ada lampu/penerangan, ada bahan, ada kehendak untuk berkhotbah, ada Saudara – kalau tidak ada Saudara, saya mau berkhotbah kepada siapa?

Jadi, seperti ada orang sakit, ada kehendak untuk mengobati, dan ada obat. Obatnya lalu diberikan kepada yang sakit. Yang sakit merasa senang karena sembuh. Kalau ditanya, “Siapa yang menolong dia – yang memberikan obat?” “Saya.” Itu boleh. Tetapi dengan pengertian untuk kemajuan batin harus dimengerti bahwa tidak ada “saya” yang menolong mengambil obat. Mengapa? Karena kalau tidak ada yang sakit, siapa yang mau diambili obat? Kalau ada yang sakit, tidak ada obat, apa yang akan diberikan? Kalau saya sudah mengatakan, saya sudah menolong dia, mengatakan begitu dan merasa begitu menang, itu namanya menang-menangan, mendiskreditkan, menganggap orang sakit dan obat itu tidak ada. Yang ada, aku sudah berbuat menolong. Lalu, yang ada itu apa, Bhante? Yang ada adalah proses, prose situ baik, mata melihat, “Kok dia sakit?” lalu timbul kehendak, melihat obat ada di sini, tangannya bergerak, lalu obat ini diangkat, diberikan pada dia. Dianya lalu senyum-senyum, senang, ya sudah. Hanya begitu saudara – proses. Itu namanya proses yang baik. Aku yang berbuat baik itu tidak ada. Ini hanya salah satu faktor. Untuk bercakap-cakap, membuat orang agar tidak bingung, boleh kita mengatakan, “Dia yang memberikan obat.” Tetapi untuk kepentingan batin, ini tidak boleh. “Aku” yang sejati itu yang mana? Pikirannya, jasmaninya, perasaannya, hidungnya atau matanya?

Sering saya bertanya, Saudara melihat ini sebagai apa? Bentuk apa ini? Rumah. Siapa di antara Saudara yang melihat ini lalu bilang, “Oh, ini nagasari.” Tidak ada. Tetapi coba Saudara tunjukkan, mana yang intinya rumah, mana yang disebut rumah yang sejati, yang betul-betul rumah? Kalau yang lain-lain dipisah-pisahkan, intinya rumah yang mana? Tidak ada. Coba Saudara tunjuk yang mana? Ini lantai, ini dinding, ini plafon, itu atap. Mana yang disebut rumah? Kalau bentuk ini dirobohkan, ditumpuk-tumpukkan di sini, tidak dibuang, tidak diambil, utuh tapi diroboh dan ditumpuk-tumpukkan di sini, rumahnya hilang. Orang melihat apa? Oh, itu puing-puing. Jadi rumah itu apa, Bhante? Rumah itu adalah sebutan saja, supaya kita tidak bingung. Ini rumah, ini gelas.

Kalau saya jalan pelan-pelan, Saudara mengatakan ini jalan. Tapi kalau nanti lebih cepat, disebut lari. Apakah ini jalan, atau sungguh-sungguh jalan? Ini hanya kaki yang bergerak begini. Proses kaki ini bergerak, itu yang betul.

Faktor-faktor yang berkumpul menjadi satu, cocok, lalu jadi dan itu tidak kekal. Kalau Saudara bisa punya pengertian seperti begitu, batin Saudara akan naik menuju ke level yang tertinggi. Kalau hanya menjaga niat tidak negatif, tidak jahat, baik dari segala arah, punya cita-cita yang masuk akal, tidak muluk-muluk, dan berusaha mencapai sukses, dan bahagia, itu biasa, Saudara. Dan itu sudah cukup untuk hidup bermasyarakat. Jadi kalau Saudara tidak bisa mengerti yang nomor 4, jangan pusing. Tinggalkan saja! Tidak usah dipikir-pikir. Buang saja! Yang penting saya menginginkan Saudara minimal mempunyai sikap yang disebut hati-hati.

Hati-hati itu menurut Ajaran Buddha adalah punya kehendak baik. Dan itu harus sengaja dilihat, diteliti dan betul-betul kita mengerti itu sebagai baik, dari segala arah. Dari Dhamma, dari undang-undang, dari lingkungan, dan bukan dari hanya karena kita merasa itu baik. Kemudian, sappaya-sampajanna, niat itu masuk akal, mampu kita lakukan dan capai. Kemudian berusaha dengan tidak meninggalkan niat yang telah kita sepakati – gocara-sampajanna – maka itu sudah cukup. Kusala-cetanā, satthaka-sampajañña, sappaya-sampajañña, gocara-sampajañña, cukup! Kalau Saudara tidak mengerti yang nomor 4, buang saja. Tetapi kalau Saudara bisa mengerti, Saudara membawa sikap mental Saudara ke tingkat level yang paling tinggi, yang mungkin itulah ciri khas dari Ajaran Buddha.

Referensi
Bodhikusalo, Rofin, Alex. 2008. Bingkai Kehidupan: Kumpulan Ceramah Dhamma Bhante Paññavaro. Medan: CV Karya Maju

Referensi Gambar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar