“Dalam
hal ini, para bhikkhu, demikianlah yang direnungkan para siswa Ariya: Para
Arahat, sepanjang hidup telah meninggalkan pembunuhan makhluk hidup, telah
menjauhkan diri dari pembunuhan makhluk hidup, telah meletakkan tongkat pemukul
serta senjata tajam, merasa malu (berbuat jahat) dan bersikap penuh kasih
sayang terhadap semua makhluk hidup. Aku pun siang dan malam ini akan
meninggalkan pembunuhan makhluk hidup, akan menjauhkan diri dari pembunuhan
makhluk hidup, akan meletakkan tongkat pemukul serta senjata tajam, merasa malu
(berbuat jahat) dan bersikap penuh kasih sayang terhadap semua makhluk hidup.
Dengan cara demikianlah aku mengikuti jejak para Arahat, dan menjalankan
uposatha. Inilah sila pertama yang diamalkan.
Para
Arahat, sepanjang hidup telah meninggalkan pengambilan sesuatu yang tidak
diberikan, menjauhkan diri dari pengambilan sesuatu yang tidak diberikan, hanya
mengambil apa yang diberikan, hanya menginginkan apa yang diberikan, tidak
mencuri, dirinya bersih, bebas dari noda. Aku pun siang dan malam ini akan
meninggalkan pengambilan sesuatu yang tidak diberikan, menjauhkan diri dari
pengambilan sesuatu yang tidak diberikan, hanya mengambil apa yang diberikan,
hanya menginginkan apa yang diberikan, tidak mencuri, dirinya bersih, bebas
dari noda. Dengan cara demikianlah, aku mengikuti jejak para Arahat, dan
menjalankan uposatha. Inilah sila ke dua yang diamalkan.
Para
Arahat, sepanjang hidup telah meninggalkan kehidupan tidak suci, menjalankan
kehidupan suci, menjauhkan diri dari hal-hal yang tercela, menjauhkan diri dari
kontak seksual seperti orang awam. Aku pun siang dan malam ini akan
meninggalkan kehidupan tidak suci, menjalankan kehidupan suci, menjauhkan diri
dari hal-hal yang tercela, menjauhkan diri dari kontak seksual seperti orang
awam. Dengan cara demikianlah, aku mengikuti jejak para Arahat, dan menjalankan
uposatha. Inilah sila ke tiga yang diamalkan.
Para
Arahat, sepanjang hidup telah meninggalkan ucapan bohong, menjauhkan diri dari
ucapan bohong, hanya mengucapkan yang benar, yang sesuai dengan kenyataan,
dapat dipercayai, jujur, tidak berdusta terhadap orang-orang di dunia. Aku pun
siang dan malam ini akan meninggalkan ucapan bohong, menjauhkan diri dari
ucapan bohong, hanya mengucapkan yang benar, yang sesuai dengan kenyataan,
dapat dipercayai, jujur, tidak berdusta terhadap orang-orang di dunia. Dengan
cara demikianlah, aku mengikuti jejak para Arahat, dan menjalankan uposatha.
Inilah sila ke empat yang diamalkan.
Para
Arahat, sepanjang hidup telah meninggalkan minuman beralkohol dan memabukkan,
menjauhkan diri dari minuman beralkohol dan memabukkan. Aku pun siang dan malam
ini akan meninggalkan minuman beralkohol dan memabukkan, menjauhkan diri dari
minuman beralkohol dan memabukkan. Dengan cara demikianlah, aku mengikuti jejak
para Arahat, dan menjalankan uposatha. Inilah sila ke lima yang diamalkan.
Para
Arahat, sepanjang hidup sehari hanya makan sekali, tidak makan pada malam hari,
menjauhkan diri dari makan pada waktu yang salah. Aku pun siang dan malam ini
akan makan hanya sekali, tidak makan pada malam hari, menjauhkan diri dari
makan pada waktu yang salah. Dengan cara demikianlah, aku mengikuti jejak para
Arahat, dan menjalankan uposatha. Inilah sila ke enam yang diamalkan.
Para
Arahat, sepanjang hidup menjauhkan diri dari tari-tarian, nyanyian, musik,
tontonan pertunjukan, menjauhkan diri dari pengenaan untaian bunga, wangi-wangian,
bahan kosmetik, dandanan dan perhiasan. Aku pun siang dan malam ini akan
menjauhkan diri dari tari-tarian, nyanyian, musik, tontonan pertunjukan,
menjauhkan diri dari pengenaan untaian bunga, wangi-wangian, bahan kosmetik,
dandanan dan perhiasan. Dengan cara demikianlah, aku mengikuti jejak para
Arahat, dan menjalankan uposatha. Inilah sila ke tujuh yang diamalkan.
Para
Arahat, sepanjang hidup meninggalkan tempat tidur yang tinggi dan besar,
menjauhkan diri dari tempat tidur yang tinggi dan besar, hanya menggunakan
tempat tidur yang rendah atau yang beralaskan taburan dedaunan. Aku pun siang
dan malam ini akan meninggalkan tempat tidur yang tinggi dan besar, menjauhkan
diri dari tempat tidur yang tinggi dan besar, hanya menggunakan tempat tidur
yang rendah atau yang beralaskan taburan dedaunan. Dengan cara demikianlah, aku
mengikuti jejak para Arahat, dan menjalankan uposatha. Inilah sila ke delapan
yang diamalkan. Demikianlah, para bhikkhu, pengamalan uposatha berunsur delapan
yang baik pahala, manfaat, kemuliaan, maupun jangkauannya besar sekali.
Seberapa
besarkah pahalanya? Seberapa besarkah manfaatnya? Seberapa besarkah
kemuliaannya? Seberapa besarkah jangkauannya? Sama seperti, para bhikkhu,
memiliki kekuasaan penuh atas ke enam belas negara --- Angga, Magadha, Kasi,
Kosala, Wajji, Malla, Ceti, Wangga, Kuru, Pancala, Maccha, Surasena, Assaka,
Awanti, Gandhara, dan Kamboja --- yang berlimpah-ruah dalam tujuh permata,
namun masih kalah jauh tidak sebanding dengan uposatha berunsur delapan ini.
Apa sebabnya? Karena, para bhikkhu, bila dibandingkan dengan kebahagiaan
surgawi, kerajaan manusia sungguh tiada nilainya.
Para
bhikkhu, 50 tahun alam manusia setara dengan sehari semalam para Dewa
Catumaharajika. Tiga puluh ‘hari’ demikian adalah sebulan. Dua belas ‘bulan’
demikian adalah satu tahun. Usia para Dewa Catumaharajika adalah 500 ‘tahun’
demikian. Besar kemungkinan, para bhikkhu, ada pria atau wanita tertentu,
setelah mengamalkan uposatha berunsur delapan, apabila badan jasmaninya hancur
sesudah meninggal dunia, akan terlahir kembali di antara para Dewa
Catumaharajika. Inilah, para bhikkhu, yang tersirat dalam ungkapan ‘bila
dibandingkan dengan kebahagiaan surgawi, kerajaan manusia sungguh tiada
nilainya.’
Para bhikkhu, 100 tahun alam manusia setara dengan sehari semalam para Dewa Tavatimsa. Tiga puluh ‘hari’ demikian adalah sebulan. Dua belas ‘bulan’ demikian adalah satu tahun. Usia para Dewa Tawatimsa adalah 1.000 ‘tahun’ demikian. Besar kemungkinan, para bhikkhu, ada pria atau wanita tertentu, setelah mengamalkan uposatha berunsur delapan, apabila badan jasmaninya hancur sesudah meninggal dunia, akan terlahir kembali di antara para Dewa Tavatimsa. Inilah, para bhikkhu, yang tersirat dalam ungkapan ‘bila dibandingkan dengan kebahagiaan surgawi, kerajaan manusia sungguh tiada nilainya.’
Para
bhikkhu, 200 tahun alam manusia setara dengan sehari semalam para Dewa Yama.
Tiga puluh ‘hari’ demikian adalah sebulan. Dua belas ‘bulan’ demikian adalah
satu tahun. Usia para Dewa Yama adalah 2.000 ‘tahun’ demikian. Besar
kemungkinan, para bhikkhu, ada pria atau wanita tertentu, setelah mengamalkan
uposatha berunsur delapan, apabila badan jasmaninya hancur sesudah meninggal
dunia, akan terlahir kembali di antara para Dewa Yama. Inilah, para bhikkhu,
yang tersirat dalam ungkapan ‘bila dibandingkan dengan kebahagiaan surgawi,
kerajaan manusia sungguh tiada nilainya.’
Para
bhikkhu, 400 tahun alam manusia setara dengan sehari semalam para Dewa Tusita.
Tiga puluh ‘hari’ demikian adalah sebulan. Dua belas ‘bulan’ demikian adalah
satu tahun. Usia para Dewa Tusita adalah 4.000 ‘tahun’ demikian. Besar
kemungkinan, para bhikkhu, ada pria atau wanita tertentu, setelah mengamalkan
uposatha berunsur delapan, apabila badan jasmaninya hancur sesudah meninggal
dunia, akan terlahir kembali di antara para Dewa Tusita. Inilah, para bhikkhu,
yang tersirat dalam ungkapan ‘bila dibandingkan dengan kebahagiaan surgawi,
kerajaan manusia sungguh tiada nilainya.’
Para
bhikkhu, 800 tahun alam manusia setara dengan sehari semalam para Dewa
Nimmanarati. Tiga puluh ‘hari’ demikian adalah sebulan. Dua belas ‘bulan’
demikian adalah satu tahun. Usia para Dewa Nimmanarati adalah 8.000 ‘tahun’
demikian. Besar kemungkinan, para bhikkhu, ada pria atau wanita tertentu,
setelah mengamalkan uposatha berunsur delapan, apabila badan jasmaninya hancur
sesudah meninggal dunia, akan terlahir kembali di antara para Dewa Nimmanarati.
Inilah, para bhikkhu, yang tersirat dalam ungkapan ‘bila dibandingkan dengan
kebahagiaan surgawi, kerajaan manusia sungguh tiada nilainya.’
Para
bhikkhu, 1.600 tahun alam manusia setara dengan sehari semalam para Dewa
Paranimmitavasavatti. Tiga puluh ‘hari’ demikian adalah sebulan. Dua belas ‘bulan’
demikian adalah satu tahun. Usia para Dewa Paranimmitavasavatti adalah 16.000 ‘tahun’
demikian. Besar kemungkinan, para bhikkhu, ada pria atau wanita tertentu,
setelah mengamalkan uposatha berunsur delapan, apabila badan jasmaninya hancur
sesudah meninggal dunia, akan terlahir kembali di antara para Dewa
Paranimmitavasavatti. Inilah, para bhikkhu, yang tersirat dalam ungkapan ‘bila
dibandingkan dengan kebahagiaan surgawi, kerajaan manusia sungguh tiada
nilainya.’
“Tidak membunuh, tidak
mencuri,
Tidak berbohong pun
bukan peminum,
Menjauhi seks dan hidup
tidak suci,
Tidak makan malam, di
waktu yang salah,
Tak mengenakan kalung
bunga dan wewangian,
Tidur beralas bumi atau
dipan,
Inilah delapan unsur uposatha
nan agung.
Oleh Buddha telah dibabarkan
pelebur dukkha,
Bak mentari dan
rembulan nan tampak jelas,
Bercahaya cemerlang
memancar jauh,
Mengusir kegelapan di
angkasa raya,
Menyinari langit
menerangi penjuru.
Di antara harta pusaka
di sini,
Mutiara, permata,
lapis-lazuli,
Serta emas nan bernilai
tinggi,
Yang dikatakan dapat
diperoleh dengan uang,
Dibandingkan dengan
uposatha berunsur delapan,
Sungguh kalah jauh
tidak sebanding.
Bak sinar rembulan
dengan semua cahaya bintang.
Oleh karena itu, hai
pria dan wanita nan berbudi,
Setelah mengamalkan
uposatha berunsur delapan,
Kebajikan yang
mendatangkan kebahagiaan,
Dengan tiada cacat,
surgalah yang kalian raih!”
Referensi
________. 2004. Uposatha-Sila, Pengamalan Delapan Sila.
Medan
Referensi Gambar
http://culinarygems.blogspot.com/2013/11/10-sosok-terkenal-dalam-mitologi-china.html (diakses 3 Mei 2014, 18:34)
http://www.gutenberg.org/files/15250/15250-h/img/p170.jpg (diakses 3 Mei 2014, 18:33)
http://kisahmotivasihidup.blogspot.com/2012/01/menyambut-dewa-dewi-turun-dari-langit.html (diakses 3 Mei 2014, 18:33)
http://www.suppressedhistories.net/goddess/xiwangmu.html (diakses 5 Mei 2014, 18:59)
http://www.suppressedhistories.net/goddess/xiwangmu.html (diakses 5 Mei 2014, 18:59)




Tidak ada komentar:
Posting Komentar