Sabtu, 03 Mei 2014

Uposatha-Sila, Pengamalan Delapan Sila

Demikianlah yang telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Bhagava sedang berdiam di hutan Jeta, arama Anathapindika, dekat Savatthi. Kala itu, Sang Bhagwan bersabda kepada para bhikkhu, “Hai para bhikkhu.” “Ya, Bhante.” Para bhikkhu menyahut Sang Bhagawan. Demikian sabda Sang Bhagawan, “Hai para bhikkhu, pengamalan uposatha berunsur delapan baik pahala, manfaat, kemuliaan, maupun jangkauannya besar sekali. Hai  para bhikkhu, bagaimanakah pengamalan uposatha berunsur delapan yang baik pahala, manfaat, kemuliaan, maupun jangkauannya besar sekali itu?”

“Dalam hal ini, para bhikkhu, demikianlah yang direnungkan para siswa Ariya: Para Arahat, sepanjang hidup telah meninggalkan pembunuhan makhluk hidup, telah menjauhkan diri dari pembunuhan makhluk hidup, telah meletakkan tongkat pemukul serta senjata tajam, merasa malu (berbuat jahat) dan bersikap penuh kasih sayang terhadap semua makhluk hidup. Aku pun siang dan malam ini akan meninggalkan pembunuhan makhluk hidup, akan menjauhkan diri dari pembunuhan makhluk hidup, akan meletakkan tongkat pemukul serta senjata tajam, merasa malu (berbuat jahat) dan bersikap penuh kasih sayang terhadap semua makhluk hidup. Dengan cara demikianlah aku mengikuti jejak para Arahat, dan menjalankan uposatha. Inilah sila pertama yang diamalkan.
Para Arahat, sepanjang hidup telah meninggalkan pengambilan sesuatu yang tidak diberikan, menjauhkan diri dari pengambilan sesuatu yang tidak diberikan, hanya mengambil apa yang diberikan, hanya menginginkan apa yang diberikan, tidak mencuri, dirinya bersih, bebas dari noda. Aku pun siang dan malam ini akan meninggalkan pengambilan sesuatu yang tidak diberikan, menjauhkan diri dari pengambilan sesuatu yang tidak diberikan, hanya mengambil apa yang diberikan, hanya menginginkan apa yang diberikan, tidak mencuri, dirinya bersih, bebas dari noda. Dengan cara demikianlah, aku mengikuti jejak para Arahat, dan menjalankan uposatha. Inilah sila ke dua yang diamalkan.
Para Arahat, sepanjang hidup telah meninggalkan kehidupan tidak suci, menjalankan kehidupan suci, menjauhkan diri dari hal-hal yang tercela, menjauhkan diri dari kontak seksual seperti orang awam. Aku pun siang dan malam ini akan meninggalkan kehidupan tidak suci, menjalankan kehidupan suci, menjauhkan diri dari hal-hal yang tercela, menjauhkan diri dari kontak seksual seperti orang awam. Dengan cara demikianlah, aku mengikuti jejak para Arahat, dan menjalankan uposatha. Inilah sila ke tiga yang diamalkan.
Para Arahat, sepanjang hidup telah meninggalkan ucapan bohong, menjauhkan diri dari ucapan bohong, hanya mengucapkan yang benar, yang sesuai dengan kenyataan, dapat dipercayai, jujur, tidak berdusta terhadap orang-orang di dunia. Aku pun siang dan malam ini akan meninggalkan ucapan bohong, menjauhkan diri dari ucapan bohong, hanya mengucapkan yang benar, yang sesuai dengan kenyataan, dapat dipercayai, jujur, tidak berdusta terhadap orang-orang di dunia. Dengan cara demikianlah, aku mengikuti jejak para Arahat, dan menjalankan uposatha. Inilah sila ke empat yang diamalkan.
Para Arahat, sepanjang hidup telah meninggalkan minuman beralkohol dan memabukkan, menjauhkan diri dari minuman beralkohol dan memabukkan. Aku pun siang dan malam ini akan meninggalkan minuman beralkohol dan memabukkan, menjauhkan diri dari minuman beralkohol dan memabukkan. Dengan cara demikianlah, aku mengikuti jejak para Arahat, dan menjalankan uposatha. Inilah sila ke lima yang diamalkan.
Para Arahat, sepanjang hidup sehari hanya makan sekali, tidak makan pada malam hari, menjauhkan diri dari makan pada waktu yang salah. Aku pun siang dan malam ini akan makan hanya sekali, tidak makan pada malam hari, menjauhkan diri dari makan pada waktu yang salah. Dengan cara demikianlah, aku mengikuti jejak para Arahat, dan menjalankan uposatha. Inilah sila ke enam yang diamalkan.
Para Arahat, sepanjang hidup menjauhkan diri dari tari-tarian, nyanyian, musik, tontonan pertunjukan, menjauhkan diri dari pengenaan untaian bunga, wangi-wangian, bahan kosmetik, dandanan dan perhiasan. Aku pun siang dan malam ini akan menjauhkan diri dari tari-tarian, nyanyian, musik, tontonan pertunjukan, menjauhkan diri dari pengenaan untaian bunga, wangi-wangian, bahan kosmetik, dandanan dan perhiasan. Dengan cara demikianlah, aku mengikuti jejak para Arahat, dan menjalankan uposatha. Inilah sila ke tujuh yang diamalkan.
Para Arahat, sepanjang hidup meninggalkan tempat tidur yang tinggi dan besar, menjauhkan diri dari tempat tidur yang tinggi dan besar, hanya menggunakan tempat tidur yang rendah atau yang beralaskan taburan dedaunan. Aku pun siang dan malam ini akan meninggalkan tempat tidur yang tinggi dan besar, menjauhkan diri dari tempat tidur yang tinggi dan besar, hanya menggunakan tempat tidur yang rendah atau yang beralaskan taburan dedaunan. Dengan cara demikianlah, aku mengikuti jejak para Arahat, dan menjalankan uposatha. Inilah sila ke delapan yang diamalkan. Demikianlah, para bhikkhu, pengamalan uposatha berunsur delapan yang baik pahala, manfaat, kemuliaan, maupun jangkauannya besar sekali.
Seberapa besarkah pahalanya? Seberapa besarkah manfaatnya? Seberapa besarkah kemuliaannya? Seberapa besarkah jangkauannya? Sama seperti, para bhikkhu, memiliki kekuasaan penuh atas ke enam belas negara --- Angga, Magadha, Kasi, Kosala, Wajji, Malla, Ceti, Wangga, Kuru, Pancala, Maccha, Surasena, Assaka, Awanti, Gandhara, dan Kamboja --- yang berlimpah-ruah dalam tujuh permata, namun masih kalah jauh tidak sebanding dengan uposatha berunsur delapan ini. Apa sebabnya? Karena, para bhikkhu, bila dibandingkan dengan kebahagiaan surgawi, kerajaan manusia sungguh tiada nilainya.
Para bhikkhu, 50 tahun alam manusia setara dengan sehari semalam para Dewa Catumaharajika. Tiga puluh ‘hari’ demikian adalah sebulan. Dua belas ‘bulan’ demikian adalah satu tahun. Usia para Dewa Catumaharajika adalah 500 ‘tahun’ demikian. Besar kemungkinan, para bhikkhu, ada pria atau wanita tertentu, setelah mengamalkan uposatha berunsur delapan, apabila badan jasmaninya hancur sesudah meninggal dunia, akan terlahir kembali di antara para Dewa Catumaharajika. Inilah, para bhikkhu, yang tersirat dalam ungkapan ‘bila dibandingkan dengan kebahagiaan surgawi, kerajaan manusia sungguh tiada nilainya.’

 

Para bhikkhu, 100 tahun alam manusia setara dengan sehari semalam para Dewa Tavatimsa. Tiga puluh ‘hari’ demikian adalah sebulan. Dua belas ‘bulan’ demikian adalah satu tahun. Usia para Dewa Tawatimsa adalah 1.000 ‘tahun’ demikian. Besar kemungkinan, para bhikkhu, ada pria atau wanita tertentu, setelah mengamalkan uposatha berunsur delapan, apabila badan jasmaninya hancur sesudah meninggal dunia, akan terlahir kembali di antara para Dewa Tavatimsa. Inilah, para bhikkhu, yang tersirat dalam ungkapan ‘bila dibandingkan dengan kebahagiaan surgawi, kerajaan manusia sungguh tiada nilainya.’

Para bhikkhu, 200 tahun alam manusia setara dengan sehari semalam para Dewa Yama. Tiga puluh ‘hari’ demikian adalah sebulan. Dua belas ‘bulan’ demikian adalah satu tahun. Usia para Dewa Yama adalah 2.000 ‘tahun’ demikian. Besar kemungkinan, para bhikkhu, ada pria atau wanita tertentu, setelah mengamalkan uposatha berunsur delapan, apabila badan jasmaninya hancur sesudah meninggal dunia, akan terlahir kembali di antara para Dewa Yama. Inilah, para bhikkhu, yang tersirat dalam ungkapan ‘bila dibandingkan dengan kebahagiaan surgawi, kerajaan manusia sungguh tiada nilainya.’

Para bhikkhu, 400 tahun alam manusia setara dengan sehari semalam para Dewa Tusita. Tiga puluh ‘hari’ demikian adalah sebulan. Dua belas ‘bulan’ demikian adalah satu tahun. Usia para Dewa Tusita adalah 4.000 ‘tahun’ demikian. Besar kemungkinan, para bhikkhu, ada pria atau wanita tertentu, setelah mengamalkan uposatha berunsur delapan, apabila badan jasmaninya hancur sesudah meninggal dunia, akan terlahir kembali di antara para Dewa Tusita. Inilah, para bhikkhu, yang tersirat dalam ungkapan ‘bila dibandingkan dengan kebahagiaan surgawi, kerajaan manusia sungguh tiada nilainya.’

Para bhikkhu, 800 tahun alam manusia setara dengan sehari semalam para Dewa Nimmanarati. Tiga puluh ‘hari’ demikian adalah sebulan. Dua belas ‘bulan’ demikian adalah satu tahun. Usia para Dewa Nimmanarati adalah 8.000 ‘tahun’ demikian. Besar kemungkinan, para bhikkhu, ada pria atau wanita tertentu, setelah mengamalkan uposatha berunsur delapan, apabila badan jasmaninya hancur sesudah meninggal dunia, akan terlahir kembali di antara para Dewa Nimmanarati. Inilah, para bhikkhu, yang tersirat dalam ungkapan ‘bila dibandingkan dengan kebahagiaan surgawi, kerajaan manusia sungguh tiada nilainya.’
Para bhikkhu, 1.600 tahun alam manusia setara dengan sehari semalam para Dewa Paranimmitavasavatti. Tiga puluh ‘hari’ demikian adalah sebulan. Dua belas ‘bulan’ demikian adalah satu tahun. Usia para Dewa Paranimmitavasavatti adalah 16.000 ‘tahun’ demikian. Besar kemungkinan, para bhikkhu, ada pria atau wanita tertentu, setelah mengamalkan uposatha berunsur delapan, apabila badan jasmaninya hancur sesudah meninggal dunia, akan terlahir kembali di antara para Dewa Paranimmitavasavatti. Inilah, para bhikkhu, yang tersirat dalam ungkapan ‘bila dibandingkan dengan kebahagiaan surgawi, kerajaan manusia sungguh tiada nilainya.’
“Tidak membunuh, tidak mencuri,
Tidak berbohong pun bukan peminum,
Menjauhi seks dan hidup tidak suci,
Tidak makan malam, di waktu yang salah,
Tak mengenakan kalung bunga dan wewangian,
Tidur beralas bumi atau dipan,
Inilah delapan unsur uposatha nan agung.
Oleh Buddha telah dibabarkan pelebur dukkha,
Bak mentari dan rembulan nan tampak jelas,
Bercahaya cemerlang memancar jauh,
Mengusir kegelapan di angkasa raya,
Menyinari langit menerangi penjuru.
Di antara harta pusaka di sini,
Mutiara, permata, lapis-lazuli,
Serta emas nan bernilai tinggi,
Yang dikatakan dapat diperoleh dengan uang,
Dibandingkan dengan uposatha berunsur delapan,
Sungguh kalah jauh tidak sebanding.
Bak sinar rembulan dengan semua cahaya bintang.
Oleh karena itu, hai pria dan wanita nan berbudi,
Setelah mengamalkan uposatha berunsur delapan,
Kebajikan yang mendatangkan kebahagiaan,
Dengan tiada cacat, surgalah yang kalian raih!”


Referensi
________. 2004. Uposatha-Sila, Pengamalan Delapan Sila. Medan

Referensi Gambar
http://culinarygems.blogspot.com/2013/11/10-sosok-terkenal-dalam-mitologi-china.html (diakses 3 Mei 2014, 18:34)
http://www.gutenberg.org/files/15250/15250-h/img/p170.jpg (diakses 3 Mei 2014, 18:33)
http://kisahmotivasihidup.blogspot.com/2012/01/menyambut-dewa-dewi-turun-dari-langit.html (diakses 3 Mei 2014, 18:33) 
http://www.suppressedhistories.net/goddess/xiwangmu.html (diakses 5 Mei 2014, 18:59)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar